Sabtu, 31 Desember 2016

Pengalaman Beli Harddisk di Lazada

3 komentar
Sudah dari lama aku pengen beli harddisk (HDD). Bukan hanya ingin, tapi lebih ke arah kebutuhan. Kapasitas harddisk di laptopku (HP Compaq 510) amatlah kecil, hanya 245 GB di local disk D dan local disk E. Padahal, banyak banget data yang perlu kusimpan, terutama film, fotografi dan videografi yang memakan banyak ruang penyimpanan. Tak butuh waktu lama, 2 tahun dari membeli laptop, kapasitas harddisk-ku sudah hampir penuh, dan jalan keluar yang ada saat itu hanya memindah sebagian ke flashdisk atau menghapus selama-lamanya.
            Waktu demi waktu berlalu. Aku sempat ke Hi Tech Mall Surabaya buat tanya harga harddisk, sekitar tahun 2015 atau 2016 awal, dan penjualnya bilang sekitar 700 ribu untuk kapasitas 500 GB dan 1 juta untuk kapasitas 1 TB. Lumayan juga, jadi harus nabung nih. Lalu, aku nyoba nyari di Lazada, salah satu situs belanja online yang paling ku percaya. Kata orang-orang, merk yang bagus adalah Western Digital (WD) atau Seagate, maka aku fokuskan nyari dari dua merk itu.

Wisata Kuliner di Briosse Bistro, Surabaya

0 komentar
Kamis lalu (22/12), aku dan kedua kawan kulinerku, Mas Hakim dan Hani, memutuskan untuk makan siang di Briosse Bistro. Bukan apa-apa, kami hanya memanfaatkan voucher gratis 50 ribu rupiah dari Foody Surabaya, yang dalam hitungan seminggu-an akan kadaluarsa. Kalau kalian bertanya, “Dari mana sih bisa dapet voucher-voucher gratisan seperti itu?” aku bakal jawab, “Hasil dari nge-review kuliner di aplikasi Foody” (bisa di-download di Google Playstore).
SURGAAAAA
            Briosse Bistro ada di Jalan HR. Muhammad No. 27-29, Surabaya Barat. Letaknya ada di lantai 3 Thema Home Furniture, toko yang menjual furnitur, mebel dan sebangsanya. Lumayan jauh juga kalau dari lokasi tempat aku tinggal (Surabaya Utara). Tapi, jalannya gak ruwet kok, gampang dihapal malah, soalnya keliatan dari pinggir jalan besar. Dan aku juga memboncengkan Hani, kami bertiga ketemuan di depan universitas kami, yakni Universitas Airlangga, tepatnya di Kampus B.

Kulineran di Waroeng Steak & Shake

0 komentar
Pernahkah kalian makan steak? Dimana pertama kali kamu makan steak? Atau belum pernah makan, karena khawatir harganya bakal mahal? Hapuskan rasa khawatirmu yuk, karena ada rumah makan steak yang murah-meriah tapi dijamin enak: Waroeng Steak & Shake! WSS ini punya cabang di banyak kota lho, diantaranya Surabaya, Jakarta, Jogja dan Semarang!
            Aku makan steak pertamaku disini, waktu itu Maret 2015 kalau nggak salah. Edisi gratisan pula, karena waktu itu ada donor darah di WSS cabang Embong Ploso, Surabaya (kini pindah ke Jalan Flores), dan semua pendonor dapat voucher makan di WSS. Aku memesan menu Steak Chicken Burger dan Milkshake Vanila. Dan kini, Desember 2016, aku ingin kembali mencoba menu itu.

Rabu, 28 Desember 2016

Workshop Pembuatan Sushi oleh Foody Surabaya dan Chirashi Zushi

0 komentar
Nggak lama berselang setelah food tasting di Casa Bocca, Foody Surabaya kembali mengadakan event, Senin (28/11). Mengambil lokasi di Chirashi Zushi, sebuah resto spesialis makanan Jepang dengan harga yang merakyat. Letaknya ada di Jalan Raya Nginden No. 30 Surabaya. Kali ini event-nya adalah workshop pembuatan sushi roll sekaligus nyobain seluruh menu sushi roll yang ada di Chirashi Zushi.  Sounds great, huh?
Chirashi Zushi
            Acaranya dimulai jam 1 siang. Selepas kuliah, jam 12.30, aku langsung meluncur kesana. Kebetulan, kampusku dekat dengan Chirashi Zushi. Disana, sudah ada beberapa orang dan jumlahnya semakin bertambah waktu demi waktu. Mas Hakim datang, tapi Hani gak datang karena lagi ada presentasi wajib dan nggak bisa bolos. Ada beberapa orang yang satu grup LINE di Foody Loyal User, yakni Ellen dan Melinda. Ada juga @MrBoo89, si koko yang selalu ceria itu.

Selasa, 27 Desember 2016

Wisata Kuliner di Casa Bocca, Surabaya

0 komentar
Kamis (24/11) kemarin, aku diundang oleh Foody Surabaya untuk datang ke acara mereka. Acaranya adalah food tasting, diadakan di Casa Bocca Italian Restaurant, di daerah Kupang, Surabaya Barat. Dan sesuai dengan namanya kita diundang untuk mencicipi makanan yang ada di restoran tersebut. Sungguh suatu keberuntungan!
Casa Bocca
            Sejarahnya kok bisa aku diundang oleh tim Foody Surabaya, karena aku merupakan salah satu Foody Loyal User, yang sering banget me-review kuliner dan membagikan foto-foto di aplikasi Foody. Aku sudah jadi pengguna Foody sejak bulan Juni 2016, dan hingga kini aku telah menuliskan lebih dari 80 review kuliner. Tak terhitung sudah berapa banyak voucher yang aku redeem dari poinku. Mungkin, dengan itu, Foody menganggap aku sebagai loyal user mereka. Dan ini pertama kali aku berpartisipasi dalam event Foody Surabaya.

Sabtu, 24 Desember 2016

Diklat APS 2016 [Hari Ketiga]

0 komentar
Demi kebijakan organisasi, maka detail-detail kegiatan pagi buta ini sedikit disamarkan. Yang jelas, kami, panitia, melakukan hal-hal yang melelahkan hingga fajar terbit. Keliling dan selalu mobile dari satu tempat ke tempat lain, dan tiap panitia punya tempat serta jobdesk-nya masing-masing. Yang jelas, semua panitia berperan malam ini, dibantu pula dengan senior-senior yang non-panitia serta alumni yang sengaja hadir. Terima kasih untuk kalian semua hehe. Aku ber-partner dengan Fafa dalam satu tempat yang sama, dan berkeliling hingga 7 kali bolak-balik, bahkan lebih. Lelah, sudah jelas. Ngantuk? Jangan tanya lagi.
Burem yha :(
            Akhirnya, langit pun berubah. Dari awalnya gelap dan penuh bintang yang berpendaran, menjadi kebiruan dan terang. Suatu malam yang magis, sunyi dan penuh dengan bintang, sementara indera pendengaran kita dimanjakan dengan suara debur ombak yang tak henti-hentinya menghempas. Magical. Sampai sekarang, masih merindu suara ombak dan malam yang magis itu.

Selasa, 20 Desember 2016

Diklat APS 2016 [Hari Kedua]

0 komentar
Hari ini (Sabtu, 17 Desember), aku cuman tidur satu jam setengah. Apalagi kalau bukan karena nulis live report diklat di blog. Aku terbangun jam 5 pagi, dan beberapa panitia sudah berdiri di depan pintu, saling ngobrol dan bercanda. Aku bergegas bangun, ambil hape dan DSLR milik Shella, lalu berlari ke pantai, tanpa cuci muka, ganti  baju atau mandi. Suara ombak yang berdebur keras membangunkan instingku, aku penasaran sekali pengen tau seperti apa wujud pantainya. Dan aku menemui satu pemandangan menonjol: laut.
Pagi dari Sowan!
            Kalau kondisi sudah terang begini terlihat indah sekali. Mari kita deskripsikan satu persatu. APS tinggal di rumah kayu kecil bercat warna biru muda dan putih, terletak hanya beberapa puluh meter dari bibir pantai. Halamannya berumput hijau segar, dan keluar dari sana ada jalan lebar. Ada tiga percabangan jalan: lurus, kiri atau kanan. Lurus menuju ke ujung tebing yang curam, menghadap langsung ke laut dengan ombaknya yang bergelora. Kiri, adalah dataran berpasir berkombinasi dengan rumput dengan pepohonan lumayan lebat, dan biasa digunakan untuk area camping. Sementara, kanan adalah jalan untuk menuju ke pantai. Jalan resmi, sudah dibikinkan setapak untuk memudahkan pengunjung berjalan-jalan.

Sabtu, 17 Desember 2016

Diklat APS 2016 [Hari Pertama]

0 komentar
Akhirnya... Event yang dinanti-nanti datang juga. Setelah rangkaian kegiatan yang padat berkaitan dengan penerimaan anggota baru APS (UKM Fotografi Universitas Airlangga), seperti PUKM, Magang dan Wawancara, kita sampai di tahap final: DIKLAT. Diklat diadakan pada tanggal 16-18 Desember 2016, di Pantai Sowan, Tuban. Iya, kamu nggak salah denger. Emang di Tuban, provinsi paling barat di Jawa Timur, berbatasan langsung dengan provinsi Jawa Tengah. Jauh kan? :)
Pas lagi materi, di villa :)
            Selain karena pengen refreshing (beda ama diklat-diklat lain yang cenderung memilih kota Malang, Pasuruan, Batu atau Mojokerto), juga karena pengen nyoba suasana baru (biasanya di dataran tinggi, sekarang di dataran rendah). Kapan lagi main ke pantai bareng-bareng? Pemandangannya bagus pula. Tapi, keistimewaan itu memiliki harga yang harus dibayar: perjalanannya jauh! Kira-kira, ada 4-5 jam yang harus kami tempuh untuk kesana, belum lagi kalau jalanan macet hehe.

Rabu, 14 Desember 2016

Seru-Seruan di Event Musik After Exam

0 komentar
Sabtu kemarin (10/12), event yang direncanakan selama satu bulan lebih akhirnya berjalan juga. Event itu bernama After Exam sebuah event musik dan band-bandan yang diselenggarakan oleh Unair Music Community (UMC). Bertempat di Vitu Hall, Lantai L2 BG Junction Mall Surabaya, mulai dari jam 13.00 hingga 21.00. Aku disini akan bercerita dari sudut pandang seorang panitia, khususnya dari sudut pandang seorang koordinator PubDok (publikasi dan dokumentasi).
            Oke, mari kita bercerita soal sejarah UMC dulu. Unair Music Community ini adalah komunitas anak-anak yang hobi main musik (lebih spesifik: band), yang dibentuk sejak Agustus 2014. Inisiatornya adalah Satria, seorang mahasiswa FH Unair angkatan 2014, yang kemudian mengajak temen-temennya dari fakultas atau temen SMA-nya, dan juga bikin publikasi di grup Facebook Mahasiswa Baru UNAIR (aku taunya dari sana) lalu kali pertama diadakan perkenalan dan jamming di danau Kampus C UNAIR. Semester 1 aku lagi giat-giatnya bermusik, tapi semakin kesini semakin meredup digantikan hobi baru (naik gunung and another outdoor activity). Kemudian, tiap semester selalu ada kegiatan lho. Semester 2 di Paranada Music Studio, semester 3 di P-Two Cafe dan semester 4 di Rotbar7 Cafe. Masih dalam skala kecil, yang hanya diisi oleh internal UMC dan kalangan pemusik internal UNAIR sendiri.
            Kemudian, munculah ide untuk membuat event yang agak gedean, lebih prestise, dengan suatu misi tertentu. Sekalian sounding ke publik bahwa we are exist. Bahwa UNAIR juga punya komunitas band, masa kalah sama universitas lain? Nggak jauh beda sama komunitas peminatan lain, band punya minat tinggi, dan minat itu harus diwadahi menjadi legal dan resmi (ehem). Kita juga pingin menjadi organisasi resmi dan punya sekre (hehehe). Lagipula, band kan termasuk seni dan segala bentuk seni harus diapresiasi. Toh kita juga nggak destruktif dan merusak, ya kan?

Selasa, 13 Desember 2016

Boycott, Hatred and Propaganda

0 komentar
Alright everyone. I’m gonna tell you something you’d probably don’t know about me. It first happens when I was in junior high school. When I was 13 or 14 years old until first year of college, I am a part of ‘boycott-Jewish product’ society. I stopped consuming anything from ‘Jewish’ corporation, for example: McDonald, KFC, even Unilever products, and turned into another product that ‘safe’ from ‘Jewish’. Is it strange, doesn’t it? You may had a question: from WHERE I got this idea in my mind?
            Well. I remember I’ve been read a book about boycott Jewish corporations and their products. I bought this book from bookstore in Jalan Semarang. It described that if we buy their products, we are ACTIVELY participated for war in middle east country. Their profit will used for support war, for support Israel, for killing our ‘brother’ in Palestine. I also read a plenty of article in websites that supported this issue. Time passed by, I start to accepeted this, and trying to avoid ‘Jewish’ products. My idealism shocked my friends in junior high school, when we got a gathering in Ramadhan, in KFC Delta Plaza, I remember that I didn’t buy anything from KFC. Not because I didn’t have money, but for my own idealism not to buy Jewish products. Beside that, I got my own food from home or from supermarket, like snacks or something. So, yes, I’m saved from starvation when I gathered with my friends (LOL).
            I once remember about giving comment in Facebook, about my thoughts not to buy ‘Jewish’ products. Surprisingly, A LOT of people support me to do so. I had thousands likes and hundreds of comments, mostly support my ‘bravery’ to avoid ‘Jewish’ product. But, time flies, and now I don’t even understand my own thought in that time. Like, seriously, IT WAS ME?

Senin, 12 Desember 2016

Makan di Sushi Tei Galaxy Mall Surabaya

0 komentar
Siapa yang nggak kenal Sushi Tei? Restoran yang menyuguhkan makanan khas Jepang ini sudah sangat terkenal dan punya cabang di hampir semua kota besar di Indonesia. Repurtasinya dalam menyuguhkan makanan Jepang sudah diakui, dibalut dengan prestise  yang tinggi apabila kita makan disana, karena harganya pun terbilang cukup mahal. Tapi sebanding dengan makanan yang disajikan, yang selalu fresh, enak dan berkualitas tinggi.
Outlet Sushi Tei di Galaxy Mall Surabaya
Tapi, beruntunglah aku hari itu mendapat kesempatan untuk makan di Sushi Tei secara gratis. Oke, nggak 100% gratis sih, tapi hampir 90% biaya tercover cuma-cuma. Thanks to Foody Indonesia yang telah memberi voucher Sushi Tei seharga Rp. 100.000 pada saya (akibat rutin me-review lewat aplikasi Foody). Sudah dari dulu aku ingin makan di Sushi Tei, aku pun punya pricelist dan daftar menunya, tapi selalu terganjal oleh masalah keuangan. Kini, aku bisa benar-benar berkunjung dan makan di Sushi Tei, lebih tepatnya Sushi Tei cabang Galaxy Mall Surabaya.

Senin, 05 Desember 2016

Resensi Novel ‘A Heart For Two’

0 komentar

Nama pengarang: T. Sandi Situmorang
Tahun terbit: 2013
Judul novel: A Heart For Two – Kuatlah Ketika Duka Datang
Kota terbit: Yogyakarta
Penerbit: Sheila/Penerbit Andi
Jumlah halaman: 234 halaman

            Jonathan Preston, atau lebih akrab disapa Jo adalah novelis yang mulai naik daun. Setelah beberapa kali menerbitkan novel melalui Generation, Sandiora Publisher mulai melirik naskahnya. Sandiora menganggap Jo adalah penulis yang potensial dan akan turut serta dalam melambungkan nama Sandiora Publisher. Maka Sandiora meminta Jo untuk menyetor naskahnya –melalui Fiana Loretta, salah satu editor fiksi Sandiora Publisher.
            Dan Fia adalah kekasih Jo.

PKL di Ngawi [Hari Keempat]

0 komentar
Minggu, 4 Desember 2016.
Malam ini tidurku nggak nyenyak. Sedikit-sedikit terbangun, lalu tidur lagi. Akhirnya, jam 4 pagi aku memutuskan untuk bangun saja, sembari melenggang ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus berganti pakaian. Setelah aku, giliran anak-anak untuk mandi. Segera ku kemas-kemas barang bawaan dan ku masukan ke tas. Lalu, aku membuka laptop untuk menuliskan artikel “PKL di Ngawi [Hari Ketiga”. Satu jam kemudian tulisanku selesai dan ku unggah langsung ke blog.
Sesudah packing, kami bersiap-siap untuk pamitan. Kami menyerahkan satu kotak yang berisi satu set teko beserta uang dalam amplop ke Bu Kades. Beliau berpesan agar hati-hati di jalan sekaligus kalau ada kesempatan main ke Ngawi lagi, jangan sungkan-sungkan untuk menginap di rumah beliau. Kami berfoto bersama di depan rumah bersama Pak Kades, lalu pamitan dan memasukan tas ke dalam mobil.

Minggu, 04 Desember 2016

PKL di Ngawi [Hari Ketiga]

0 komentar
Sabtu, 3 Desember 2016
Pagi ini diawali dengan belanja ke pasar. Aku ikut Angel dan Ilham belanja karena penasaran dengan pasar disini seperti apa bentuknya, hehe. Jam 6 pagi kami berangkat, aku membawa uang 20 ribu (buat nyari sarapan atau gorengan daripada kelaparan nunggu temen-temen masakin) dan kamera digital. Sekalian bikin video untuk ngerekam suasana sekitar.
            Setelah berjalan kurang dari 10 menit, kami sampai juga di pasar desa Pelangkidul. Rame juga, semua pada belanja jam segini. Pertama-tama, Angel menuju ke penjual sayur. Ia membeli kacang panjang 1000. Nyari kecambah buat pecel, tapi rata-rata pedagang menjual kecambah untuk rawon. Akhirnya nemu kecambah yang diinginkan dan membeli 3000 sekaligus. Kami membeli telur, bumbu, kerupuk dan aqua gelas sekardus juga. Sementara aku membeli 12 biji gorengan yang terdiri dari tahu isi, dadar jagung dan cireng goreng. Semuanya harganya Rp. 500. Jadi totalnya Rp. 6.000.

Sabtu, 03 Desember 2016

PKL di Ngawi [Hari Kedua]

0 komentar
Pagi akhirnya menyinari desa Pelangkidul, kecamatan Kedunggalar, kabupaten Ngawi. Aku terbangun karena anak-anak sudah mulai bangun. Jam 5 pagi. Semalam tidurnya nyaman banget, karena kasurnya empuk dan hawanya sejuk, hehe. Jadi rasanya masih malas untuk pergi ke kamar mandi, jadi (seperti biasa) aku memutuskan untuk ke kamar mandi dengan urutan paling terakhir.
Hi Pelangkidul!
            Hari ini Ilham dan Angel pergi ke pasar buat belanja. Mereka jalan kaki karena pasarnya lumayan deket dari rumah tempat kita tinggal. Kita cuman beli lauk, sayur dan bumbu karena keluarga pak kades memberi beras dan peralatan memasak secara cuma-cuma. Dikasih uang sekitar Rp. 100.000, dengan estimasi belanja sekitar Rp. 50.000 lah. Tapi, kita diberi tahu kalau pagi ini sarapan sudah tersedia dan dimasakin oleh istrinya pak kades. Namun, kita tetep belanja buat makan nanti siang dan malam.  

Jumat, 02 Desember 2016

PKL di Ngawi [Hari Pertama]

0 komentar
Hi everyone! Tebak aku berada dimana sekarang? Yup, kaki dan tubuhku nggak lagi memijak bumi Surabaya sekarang, namun tengah berada di suatu kota di ujung Barat Provinsi Jawa Timur, yaitu Kabupaten Ngawi. Nggak lagi liburan sih, tapi lagi mengikuti PKL (Praktek Kerja Lapangan) mata kuliah Komunikasi dan Modernitas. Intinya: NUGAS, tapi sembari having fun hehehe.
            PKL ini sudah direncanakan sejak awal perkuliahan, yakni pas awal bulan September. Dosen yang mengajar adalah Bu Ida, Pak Yayan dan Bu Sri. Suatu kewajiban dan tradisi turun temurun kalau mata kuliah ini SELALU ada PKL di luar kota. Karena kita meneliti suatu daerah sudah ada aspek modernitas atau belum. Apakah suatu daerah civilized atau masih indigeneous? Bagaimana pola pikir masyarakatnya? Bagaimana masyarakat menyikapi media dan fenomena komunikasi lain? Dan sejenisnya.

Jumat, 25 November 2016

Brand, Prestise dan Kapitalisme Global

0 komentar
Pernah mendengar Starbucks, Coca Cola dan McDonald? Barangkali, tak sekedar mengenal namanya, namun sebagian besar orang sudah pernah memakainya. Bahkan, sebagian orang lain telah menjadi konsumer loyal atas brand tersebut.  Ketiga brand tersebut (Starbucks, Coca Cola dan McDonald) berasal dari Amerika. Starbucks dari Seattle, Coca Cola dari Atlanta, Georgia dan McDonald dari San Bernardino, California. Dan ketiganya merupakan brand yang sudah menglobal dan memiliki tingkat penjualan yang fantastis.
 
Gambar 1: Starbucks dalam film “Empire – McAmerica: The Success Secrets of Brand USA”
            Ada alasan-alasan tertentu mengapa banyak orang di berbagai belahan dunia tetap menggunakan brand tersebut, walau terkadang harga jual produk dari brand tersebut jauh lebih tinggi dibanding produk lain yang sejenis. Starbucks misalnya, menjual minuman kopinya mulai harga Rp. 30.000 hingga Rp. 50.000 (belum termasuk PPN 10%). Padahal, di coffe bar lokal, harganya bisa jauh lebih murah. Sebagian orang menilai bahwa Starbucks tak hanya menjual produk kopi dengan citarasa yang enak, namun juga memakai service yang ramah kepada pelanggan sebagai salah satu komoditinya. Selain itu, kedai Starbucks selalu memiliki tampilan yang modern, mewah dan berkelas, ditambah dengan fasilitas WiFi yang kencang, yang juga menjadi daya tarik bagi konsumer setia mereka.

Minggu, 20 November 2016

Solo Traveling ke Ponorogo

0 komentar
Seperti yang kalian ketahui, 5 Oktober 2016 lalu aku pergi ke Ponorogo, salah satu kota yang ada di ujung paling barat provinsi Jawa Timur. Some of you might wondering, apa sih alasanku berkelana kesana? Apa yang ingin ku datangi? Dan kenapa memilih tempat yang tak terlalu popular sebagai destinasi wisata (bila dibandingkan dengan Malang, Batu dan Banyuwangi, misalnya). Terlebih, aku melakukan perjalanan ini sendirian dan tak ada yang menemani (solo traveling). Mengapa aku nekat ‘menceburkan diri’ seperti itu? Aku diserbu bertubi-tubi oleh banyak pertanyaan, dan kali ini aku akan membahasnya panjang lebar.
Baiklah, mari kita bahas. Bicara soal sejarahnya, aku sudah memikirkan soal solo traveling sejak hari Minggu (2/10). Rasanya kok asyik aja berkelana ke tempat asing tanpa ditemani siapapun. Aku jadi ngerasa lebih mandiri, kuat, gak ribet dan gak bergantung ke orang lain. Dan, hari Selasa (4/10), aku mulai nggak fokus kuliah. Saat kuliah Jurnalisme Media Cetak (JMC), aku malah buka browser dan nyari-nyari lokasi buat solo traveling. Dan ketemulah kota ini: Ponorogo.
Apa yang istimewa?

Rabu, 16 November 2016

Ketika Motor Butuh Perhatian

0 komentar
Sudah berapa tahun kalian “menjalin hubungan” dengan motor kalian? Uhm.. Kalau aku sendiri sih sudah sejak tahun 2011, ketika aku memasuki SMA. Dari rumah ke SMA berjarak lumayan jauh jika ditempuh dengan sepeda, maka aku memakai motor untuk PP rumah-sekolah. Motorku adalah Honda NF 100 TD (Revo 100cc) berwarna kuning terang (dengan kombinasi berwarna hitam). Kalau nggak salah, ayahku membeli motor itu dalam kondisi bekas dari seseorang.
Setelah bertahun-tahun bersama, tentunya banyak kenangan yang dilalui. Aku sudah bolak-balik mengadakan perjalanan keluar kota dengan motor itu. Mulai dari Singosari, Malang (rumah tante, bolak-balik), Bromo, Probolinggo (tahun 2013), Ranu Agung, Probolinggo (tahun 2016), Pacet, Mojokerto (bolak-balik), dan lain-lain. Semuanya berkesan dan meninggalkan memori indah di hidupku. Namun, nggak cuma seneng-seneng aja sama motor, tapi juga ada masa-masa buruk! Alias... ketika motor mendadak mengalami kerusakan!
Disitulah, momen ketika motor kita butuh perhatian.

Senin, 14 November 2016

Representasi Multikulturalisme pada Buku Pelajaran Kelas 2 SD

0 komentar

Ditulis oleh: Nena Zakiah
Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga - Semester 5
Sebagai tugas UTS Komunikasi dan Multikulturalisme 

PENDAHULUAN
Penanaman nilai-nilai multikulturalisme bukan lagi barang baru di Indonesia. Berbagai jenis medium menawarkan pesan-pesan dan ideologi multikultural, mulai dari film, program TV, karya jurnalistik, hingga buku-buku, baik buku fiksi, non-fiksi, hingga buku pelajaran. Tak pelak, medium-medium tersebut memiliki andil yang besar dalam menanamkan nilai-nilai multikulturalisme.
Dilansir dari Your Dictionary[1], pengertian multikultural adalah sesuatu yang menggabungkan ide-ide, keyakinan atau orang-orang dari banyak negara dan latar belakang budaya yang berbeda. Sementara menurut Rosado[2], multikulturalisme adalah sistem keyakinan dan perilaku yang mengakui dan menghormati perbedaan dalam suatu kelompok atau organisasi masyarakat, mengakui dan menghargai perbedaan sosio-kultural dan mendorong mereka terus berkontribusi di dalam sebuah konteks budaya yang memberdayakan seluruh organisasi dan masyarakat. Apabila disimpulkan, maka pengertian mengenai multikultural adalah kesadaran akan adanya perbedaan, baik perbedaan budaya, keyakinan hingga ide-ide dan bagaimana manusia menerima, menghargai dan menghormati perbedaan tersebut.
Multikulturalisme merupakan antitesis dari monokulturalisme, dimana paham tersebut lebih menekankan pada keseragaman daripada keberagaman. Dikutip dari English Oxford Living Dictionaries[3], monokulturalisme adalah kebijakan atau proses yang mendukung, mengadvokasi, atau memungkinkan ekspresi budaya dari satu kelompok sosial atau etnis. Dalam paham monokulturalisme, ada satu kelompok sosial yang menonjol dibanding kelompok-kelompok sosial yang lain. Dominasi tersebut muncul dari segi jumlah (quantity), dimana kelompok tersebut memiliki jumlah yang jauh lebih banyak dibanding kelompok sosial lainnya. Keseragaman dalam negara monokultural dilihat dari kesamaan ras, etnis, budaya dan kepercayaan. Beberapa negara monokultural adalah Jepang, China, Korea Utara dan Korea Selatan.
Indonesia adalah negara yang multikultural, hal itu jelas terlihat dari ras (Mongoloid, dengan sub-ras Malayan-Mongoloid dan Asiatik-Mongoloid, Melanesia serta sebagian kecil ras Kaukasia), agama (Islam, Kristen-Protestan, Kristen-Katholik, Hindhu, Buddha, Kong Hu Cu), aliran kepercayaan seperti animisme dan dinamisme, hingga suku, yang dilansir dari laman Badan Pusat Statistik[4], dalam Sensus Penduduk 2010 (SP2010) memiliki jumlah 633 suku. Selain itu, terdapat semboyan bangsa Indonesia yang merepresentasikan ideologi multikultural, yakni Bhinneka Tunggal Ika, yang memiliki arti berbeda-beda tetapi tetap satu. Kalimat ini terdapat di dalam lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila, tepatnya di dalam pita berwarna putih yang dicengkram oleh kaki burung garuda. Kalimat ini sejatinya telah diciptakan beberapa abad yang lalu, tepatnya pada abad ke-14 oleh Mpu Tantular dalam Kitab Sutasoma. Lalu, menjelang proklamasi, kalimat ini diusulkan oleh Muhammad Yamin kepada Soekarno sebagai semboyan negara.[5]

Selasa, 08 November 2016

Touring ke Candi Singosari dan Coban Rondo

3 komentar
            Hi everyone!
            Sebagian mahasiswa melewatkan dua minggu terakhir (24 Okt-4 Nov 2016) untuk mengerjakan UTS. Dan aku termasuk salah satu diantaranya. Ku akui, UTS kemarin nggak maksimal karena hanya belajar di detik-detik terakhir! Konsentrasiku agak terpecah karena harus bagi waktu, tenaga dan pikiran buat akademik (kuliah, tugas-tugas, kelompokan, dll), organisasi (UKM Fotografi, UMC, Indonesian Eagle, dsb), ngurus PKM (program kreatif mahasiswa), ngajar ekskul, ngerjain tugas magang dari Cerita Kita, serta bagaimana cara memperbaiki kondisi finansial agar lebih stabil dan sejahtera.
            Semua itu membuatku stress, banyak pikiran. Kebanyakan tugas malah bikin aku jadi nggak produktif. Alhasil, aku lebih sering wasting time di kamar sembari scrolling sosial media, instead of ngerjain tugas maupun belajar. Aku bukan tipikal orang yang bisa diserahin banyak tugas sekaligus, semakin banyak beban justru membuatku kehilangan fokus. Akhirnya, malah tugas-tugas itu kian menumpuk dan tak tersentuh.
            Lalu, apa yang ku lakukan untuk melepaskan “kegilaan” itu? Sekali lagi, cara termudah adalah dengan escape ke luar kota! Kali ini, aku mengajak salah satu sobat-terbaikku-sepanjang-masa-yang-sudah-mengenalku-luar-dalam yakni Tita Anggraini.

Rabu, 02 November 2016

Pilih Teh Hitam atau Teh Hijau?

1 komentar
Siapa sih yang gak kenal teh? Di masa kini, teh telah menjadi minuman paling ‘umum’ dan dikenal banyak orang. Mulai dari warung-warung kecil, kantin, rumah makan, mall, foodcourt, cafe hingga restoran besar pun menyediakan teh. Ketika bertamu ke rumah orang pun tidak jarang juga kita disuguhi dengan teh manis hangat. Repurtasi teh sebagai minuman dengan kadar gizi dan mineral tinggi mampu membuat orang-orang memasukkan teh ke dalam daftar wajib minuman mereka sehari-hari, apalagi bagi mereka yang menerapkan gaya hidup sehat.
            Di pasaran, kita umumnya mengenal dua jenis teh, yakni teh hitam dan teh hijau. Dilansir dari laman foodwatch.com, kedua jenis teh itu sama-sama didapatkan dari dedaunan Camellia sinensis. Perbedaannya ada pada cara mengolah teh itu setelah dipetik. Teh hitam diproses dengan cara dikeringkan dan dihancurkan, lalu diolah melalui proses oksidasi, yang mana proses itu membuat enzim berubah, dari enzim katekin sederhana, menjadi lebih kompleks lagi yaitu senyawa theaflavin dan thearubigens. Sementara, setelah dipetik, daun teh hijau hanya dikukus lalu dikeringkan. Proses pengolahan teh hitam pun lebih panjang dibanding teh hijau.

Selasa, 01 November 2016

Belanja Buku di Big Bad Wolf Surabaya

0 komentar
BIG BAD WOLF! Siapa sih penduduk Surabaya yang gak tau event fenomenal dan hits ini? Yup, bagi yang belum tau aja nih, Big Bad Wolf atau BBW adalah pameran buku (khususnya: buku impor) yang diselenggarakan di Jatim Expo, Surabaya, mulai hari Jum’at (20/10/2016) hingga Senin (31/10/2016). Iya, sedihnya, BBW hanya ada selama 12 hari saja.
Kenapa BBW fenomenal? Pertama, jenis dan jumlah bukunya BANYAK BANGET. Kita bisa menemukan aneka buku disini, mulai dari novel (fiksi), non-fiksi, sejarah, refrensi ilmiah, biografi, buku anak-anak, dan lain-lain. Ada juga sih buku dari Indonesia dan berbahasa Indonesia, tapi sedikit, dan didominasi oleh Mizan publisher.  Jumlah bukunya pun gak kehitung... entah ratusan ribu atau bahkan jutaan eksemplar. Kedua, jenis buku yang dipamerkan di BBW rata-rata adalah buku impor, which is pake bahasa Inggris, and it’s a good thing bagi mereka yang suka baca buku in English, tapi toko-toko buku Indonesia rata-rata kurang lengkap koleksinya. Ketiga, yang paling ‘heboh’ adalah... DISKONNYA! Mulai dari 60-80% gila kan?

Senin, 31 Oktober 2016

ADA APA DENGAN EARPHONE?

0 komentar
Sebagai pecinta musik, keberadaan earphone menjadi sangat mutlak dibutuhkan. Bukan hanya masalah kualitas audio yang bakal terasa much better daripada didengar melalui speaker, tapi juga masalah privasi kita, dimana kita bebas mendengarkan apapun tanpa membuat orang lain terganggu. Selain itu, mendengarkan musik melalui earphone juga bikin kita lebih relax dan bersemangat, seakan ada asupan vitamin yang diinjeksikan ke tubuh melalui musik.
            Sekilas cerita nih... aku sudah mulai mendengarkan musik dengan earphone sejak SD. Pertama kali, dibeliin Ayah mp4 di Hi-Tech Mall, waktu kelas 6 SD. Tentu saja, mp4 lengkap dengan earphone-nya. Sekitar tahun 2007-2008 lah. Yaaa, as you know, selera musik anak SD kayak gimana? Lagunya gak jauh-jauh dari apa yang diputer di program musik TV, gak jauh-jauh dari soundtrack sinetron, hehe. Jadi, aku dulu mengenal lagu-lagu penyanyi Indonesia, semacam BCL, Rossa, hingga band-band yang tenar kala itu. Waktu itu, harga mp4 masih mahal, sekitar 300-400 ribu rupiah.

Selasa, 25 Oktober 2016

Pengalaman Beli Powerbank di Lazada

0 komentar
Siapa sih yang gak kenal Lazada? Online shop yang besar, dengan pelayanan yang bagus, banyak diskon dan produk yang lengkap, membuatnya menjadi jujugan banyak orang dalam membeli barang-barang yang mereka inginkan. Apa saja tersedia, mulai dari peralatan elektronik, pakaian, alat dapur, perlengkapan olahraga, hingga perlengkapan rumah tangga pun ada semua. Rasanya, pengen beli semuanya deh, apalagi kalau lagi ada diskon gede-gedean (plus, lagi ada duit juga dong tentunya, hehe).
Nah, beberapa minggu kemarin, aku memesan barang di Lazada. Sebuah Powerbank dengan merk Romoss Sense 4, ber-power 10.400 mAh.  Waktu itu tanggal 4 Oktober 2016, jam 2 pagi. Awalnya sih gak ada niatan buat beli, taunya pun dari clickbait link di aplikasi Cashtree. Memperlihatkan kalau sedang ada potongan harga besar-besaran, mulai dari Rp. 489.000 menjadi Rp. 129.000. Sudah termasuk PPN. Tanpa ongkos kirim pula (ada promo free ongkir untuk tanggal 5-7 Oktober 2016)! Siapa yang gak ngiler (walau belum terlalu butuh Powerbank, tapi yaa..suatu saat Powerbank pasti berguna kok, apalagi saat aku naik gunung lagi).

Berkunjung ke Rumah Sakit dengan APS 2015

0 komentar
Jum’at lalu (21/10), aku dan 4 anak Airlangga Photography Society (APS) angkatan 2015 merencanakan ke rumah sakit buat menjenguk Mbak Dita, senior APS, yang habis kecelakaan. Udah merencanakan dari beberapa hari lalu dan sepakat berangkat Jum’at pagi. Namun, karena masih hari kuliah, maka yang bisa datang pun cuma sedikit.
Jam 10 pagi kami kumpul di Gazebo FIB. Aku langsung kesana setelah kelas Komunikasi Internasional, dan mendapati hanya ada Risca dan Maul. Ngobrol-ngobrol sejenak, lalu Yuka datang dan Maul pergi sebentar buat beli oleh-oleh buat Mbak Dita. Tak lama kemudian, giliran Derryl yang datang. Karena tak ada anak APS 2015 yang datang lagi, terpaksa hanya kami berlima yang berangkat.

Rabu, 19 Oktober 2016

Resensi Novel 'U-Turn' by Nadya Prayudhi

0 komentar
Nama pengarang: Nadya Prayudhi
Judul: U-Turn
Tahun terbit: 2013
Kota terbit: Jakarta
Penerbit: PlotPoint Publishing
Jumlah halaman: 228 halaman
Sinopsis: Karindra, atau Karin, seorang wanita karir berusia 30 tahunan, merasa shock ketika diputuskan secara sepihak oleh Bre, kekasihnya yang telah menemani selama 2 tahun terakhir. Diputuskan lewat e-mail pula, Karin tak tahu apa yang lebih buruk dari ini. Terlebih, pertengkaran mereka semalam pun tak terlalu ‘hebat’ dan ‘panas’ untuk membuat keduanya berpisah.

Kisah Kami dari Lumer Cafe, Malam Itu...

0 komentar
Kisah ini merupakan sambungan dari artikel sebelumnya (klik DISINI). Nah, sore itu pas di sekre APS Unair, tim poin, anak magang dan anak-anak APS lain pada mau hunting dengan tema “long exposure” di Taman Apsari. Aku lagi males hunting, jadinya aku nungguin Esti dan Shella di sekre buat ketemuan dan cerita-cerita. Akhirnya, Esti datang dan aku teriak, “Haiiii” dengan heboh, membuat Fafa yang di dekatku kaget dan anak-anak magang menoleh ke arahku, wkwk.
Besties (love)
Esti baru saja dari rumah, langsung kemari. Kami memang sudah janjian dari beberapa minggu yang lalu untuk ketemu. Lebih tepatnya, sejak chat super panjang dan voice note setumpuk, di hari yang istimewa itu, hehe. Shella masih di perjalanan menuju sekre. Karena masih belum lengkap, dan di sekre masih banyak orang, jadi aku belum bisa cerita soal “hari itu”. Apalagi Fafa dengan wajah-wajah yang siap untuk menguping, malah bertanya langsung ke Esti, “Sopo seh? Sopo seh (anak yang disukai Nena)?”
Tapi tentu saja gak dijawab, haha.

Senin, 17 Oktober 2016

Workshop Fotografi di Pancious Ciputra World with Anak-anak APS Unair

0 komentar
It’s been a long time gak keluar sama anak-anak APS Unair. Keluar itu berarti ikutan acara eksternal APS ya, kalau kegiatan PUKM sama Magang mah nggak dihitung. Terakhir kali sih ikutan acara launching product Fuji di Diandra Convention, sekitar Maret 2016, dengan Rahma, Ronald dan Mas Adi. Nah sekarang, aku mau cerita soal going out dengan anak-anak APS Unair juga, ke Workshop Fotografi bersama @riomotret di Pancious Ciputra World.
@apsunair x @riomotret
            Jadi, ceritanya adalah Fafa sang admin Line@ APS Unair, mendapat undangan dari pihak Pancious untuk ikutan workshop tadi secara gratis. Maksimal anak yang diundang adalah 5 orang. Maka, Fafa langsung menyebarkan undangan ke grup APS Hore, lalu dengan cepat anak-anak mendaftar juga, termasuk aku. Dan pada akhirnya, dipilih dari yang paling cepat daftar, yakni Mas Nyono, Mbak Pipit, Fauzi (Ujik), aku dan Fafa sendiri. Workshopnya diadakan pada tanggal 15 Oktober 2016, jam 10:00-13:00 waktu setempat.

Selasa, 04 Oktober 2016

Farewell Party AMERTA 2016

0 komentar
Jum’at lalu (30/9), ada acara penutup buat panitia AMERTA 2016. Udah diberitahu dari jauh-jauh hari kalo ada farewell party, dan di detik-detik terakhir aku memutuskan datang. Aslinya sih aku gak bisa datang. Kalau sesuai rencana, hari Jumat sampai Minggu ini aku rencana ke Gunung Wilis, tapi gak jadi karena suatu alasan tertentu. Maka... yaudah, aku datang ke acara ini. Hitung-hitung perpisahan lah sama panitia-panitia AMERTA 2016 lain (padahal yang aku kenal cuma anak-anak PK Garuda 5 dan beberapa wajah-wajah yg familiar, meskipun ga pernah ngobrol).
            Jadi, acaranya berlokasi di kampus C, tepatnya di sebelah sekre BEM dan asrama puteri. Ada jalan yang di-paving, tempat parkir motor lebih tepatnya. Anak-anak AMERTA duduk di alas yang dahulunya dipakai untuk konfigurasi. Aku bertemu Rina (anak PK) dan Nabila (koor PK Garuda 5), selain itu ga ada orang lagi yang aku kenal. Well.. Sebenernya sudah ada sekitar 20-30 panitia lain, tapi aku ga kenal. Shella dan Isya (pubdok) pun ga ada. Mungkin karena aku datang terlalu ‘pagi’ (jam 4 sore), belum datang atau mereka yang memang berhalangan hadir?

Minggu, 02 Oktober 2016

Resensi Novel ‘Nyanyian Hujan’

0 komentar
Nama penulis: Sintia Astarina
Tahun terbit: 2013
Judul: Nyanyian Hujan
Kota terbit: Jakarta
Penerbit: PT Grasindo
Jumlah halaman: 205 halaman
           
Sinopsis: Tak ada yang salah pada Vesta, gadis berusia 18 tahun yang hendak melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah. Kecuali, ia dan kakaknya, Revin, terpaksa harus hidup sebagai  yatim piatu akibat meninggalnya kedua orang tua mereka dalam kecelakaan pesawat, saat mereka masih kanak-kanak. Meski begitu, Vesta tumbuh menjadi gadis yang amat dicintai oleh kakaknya, om dan tantenya yang perhatian, serta Bi Sum, pengasuh yang selalu setia merawat mereka berdua hingga dewasa.
            Meskipun manja dan kekanak-kanakan, Vesta cukup tegar dan ceria dalam menjalani hidupnya tanpa kedua orang tua. Walau ia merasa sangat kesepian akibat Revin harus bekerja di Australia. Bagi Vesta, Revin adalah sosok kakak yang bijaksana, dewasa, dan selalu membantunya saat ia merasa kesusahan. Pada Revin pula, Vesta mencurahkan isi hatinya, kegundahan serta kegelisahannya. Alih-alih terus merasa sedih, Vesta memilih untuk mencurahkan isi hatinya pada hujan.

#Diary: Camping di Air Terjun Dlundung

6 komentar
Weekend menjadi saat yang tepat untuk melepas penat. Begitu pula aku, yang menghabiskan weekend-ku dengan camping! Tak jauh kok, hanya di bumi perkemahan Dlundung, Mojokerto, yang juga satu komplek dengan air terjunnya yang fenomenal. A short escape sebelum masuk kuliah nih ceritanya, hehe. Kali ini, aku berperan sebagai leader grup yang terdiri dari 3 orang cewek-cewek strong, yakni aku sendiri (haha), Tita dan Lusy.
WE’RE ON CAMPING!
            Camping ini sudah kurencanakan sejak 2 minggu yang lalu, dan kami sepakat memutuskan untuk memilih tanggal 3-4 September 2016. Berangkat Sabtu siang, pulang Minggu sore. Beberapa hari sebelum camp, aku sudah merilis daftar-daftar barang yang wajib dibawa, baik barang individu maupun barang kelompok. Barang individu berkaitan dengan pakaian, obat-obatan dan alat mandi pribadi, air, senter, piring, sendok, gelas, matras (untuk alas tenda), jas hujan hingga makanan. Sementara barang kelompok dibagi-bagi menurut kapasitas tas. Karena hanya aku yang memiliki carrier, maka aku kebagian membawa tenda, kompor dan nesting. Tita kebagian membawa logistik (makanan), sementara Lusy membawa beberapa barang pelengkap.

Selasa, 13 September 2016

Resensi Novel Tapol oleh Ngarto Februana

0 komentar
Nama pengarang: Ngarto Februana
Tahun terbit: 2002
Judul buku: Tapol
Kota terbit: Yogyakarta
Penerbit: Media Pressindo
Jumlah halaman: 176 hlm
Sinopsis: Djon adalah seorang pemulung di Yogyakarta, hidup sendirian di tengah belantara warga kota yang tak berpihak pada kaum marjinal sepertinya. Pekerjaan sehari-harinya selain mengambil barang-barang bekas tak terpakai atau mengorek-orek sampah lalu dijual ke penadah untuk mengganjal perut yang lapar, ialah bersembunyi. Ya, aparat, entah tentara maupun satpol PP, adalah musuhnya. Di mata mereka, pengemis dan gelandangan adalah sampah masyarakat, tak berguna dan patut dicurigai, lalu diangkut beramai-ramai ke dinas sosial untuk diberikan pengarahan, dan kalau apes, disiksa habis-habisan.
Sementara Mirah adalah gadis yang berkuliah di UGM, tengah menjalani semester akhir, yang seringkali dihantui oleh perasaan gelisah tak tentu arah. Ingatan masa kecilnya sering kali muncul ke permukaan, kerinduan akan bapaknya yang hilang pun tak tertahankan. Mirah selalu penasaran mengenai bapaknya, dan ketika ia bertanya ke ibunya, jawabannya selalu tak pernah memuaskan. Ibunya, Lastri, hanya bercerita jika bapaknya telah mati, dibunuh, dan mayatnya dibuang ke laut. Selebihnya, informasi lain mengenai bapak akan disimpan Lastri rapat-rapat.

Resensi Novel S. Mara GD : Misteri Sutra yang Robek

0 komentar
Nama pengarang: S. Mara Gd
Tahun terbit: 2006
Judul buku: Misteri Sutra yang Robek
Kota terbit: Jakarta
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 320 hlm
Sinopsis: Ayu Sutra dan suaminya, Ir. Sutra, telah tujuh tahun berumah tangga. Pernikahan keduanya seringkali tidak harmonis, penuh dengan konflik, pertengkaran dan bahkan kekerasan verbal dan fisik yang dilakukan oleh Ir. Sutra ke istrinya. Penyebab konflik keduanya pun berawal dari hal yang sama, yakni kekecewaan Ir. Sutra mengetahui bahwa istrinya telah kehilangan keperawanannya pada pacar semasa SMA, Hendra. Hal itu diketahuinya pada malam pertama pernikahannya dulu, dan selama tujuh tahun itu pula ia masih tidak bisa menerimanya. Ir. Sutra menganggap bahwa Ayu tidak sesuci yang ia pikirkan sebelumnya. Dan ketika mengingat hal tersebut, Ir. Sutra secara instan akan marah karena merasa ditipu lalu berujung pada pertengkaran, seperti yang sudah-sudah.
Sementara Ayu, menganggap kekecewaan Ir. Sutra tidak logis. Ia toh hanya melakukannya sekali saja dengan Hendra, itu pun saat SMA, masa-masa dimana hasrat para pemuda biasanya tidak bisa mengontrol hasratnya. Dan karena sudah terjadi belasan tahun silam, bahkan sebelum bertemu Ir. Sutra, apakah itu bisa dikategorikan sebagai pengkhianatan? begitu batin Ayu sepanjang waktu. Toh, suaminya sebelum menikahinya juga pernah tidur dengan perempuan-perempuan lain, bahkan jauh lebih banyak dibanding Ayu, jadi tidak adil rasanya membandingkan dosa miliknya dengan dosa Ir. Sutra sendiri.

Rabu, 31 Agustus 2016

Sepenggal Kisah dari AMERTA UNAIR 2016

0 komentar
STILL CAN'T BELIEVE AMERTA 2k16 BERAKHIR!!!
Begitu banyak memori indah terukir, yang puncaknya adalah hari ini. Mulai dari awal, aku daftar Amerta buat Sie Pubdekdok sama Shella Norma, temen APS (UKM Fotografi), eh malah Shella yang diterima dan aku enggak :(

Sedih, sedih, sediiiiih banget, ngerasa terbuang, hampa, mungkin karena waktu diwawancarai aku bilangnya "Gak punya kamera, mas."

Rabu, 10 Agustus 2016

Ready for AMERTA 2016?

0 komentar
       Alright, it’s 10th August, eight more days to our big event: AMERTA Unair 2016! It’s been a while since I signed up Amerta as a photographer of the event, but ended up being a PK’s staff (pembimbing kelompok a.k.a tutors). Damn, how can I ended up in here? My skill is in photograph, said me to myself at the time. Being PK’s staff is unpredictable, and annoying at first, because it’s not what I want. I felt like stay in a strange planet on the middle of nowhere. And it’s the very first time I took a job as a PK’s staff and I don’t know what to do.
       But, time passed and now I’m enjoy with my position. It’s a chance to getting out of comfort zone. I spent almost whole of my life to being photographer or videographer, and now I’m out of my comfort zone. I met so many people, including PK’s staff itselves, which has more than one hundred members, the freshmen (a.k.a MABA/mahasiswa baru), another staffs in Amerta PPKMB Unair, a lot of new people. It’s challenging, you know.

Selasa, 09 Agustus 2016

When We Talked About Life

5 komentar
Everyone else knows that it’s kinda hard to find a person who really know who you are completely. But, I really did. I found someone. And when it comes to me, I talked about my bestfriend. Correct, my soulmate. And here she is. Just called her Tita.
       We used to be friend since 8th grade, in junior high school, but in that time, she was just a classmate to me. A year later, we coincidentally became classmate again, and we made a gank named “Trio Sempel”, with four members, I myself, her, Lilik and Novita. We found a chemistry, and we laughed a lot in most of time. When we were together, every single thing became funny because we were like to make fun of everything. And then, we splited up in senior high school, because we choosed different schools. But we still hang out together sometimes, when we had a time, of course. 

Senin, 08 Agustus 2016

Review Novel “Backpacker in Love”

0 komentar
Pernah merasakan gelora meledak-ledak untuk segera bertualang? Ingin berkelana sejauh mungkin dan melepas penat di dada? Merasa jenuh dengan rutinitas kita? Seperti itulah yang sering dirasakan oleh Larasati, atau kerap disapa Laras, gadis kelas 2 SMA Pelita Hati, Solo, Jawa Tengah. Dibesarkan dalam lingkungan yang menjaga tradisi keraton dan nilai-nilai luhur budaya Jawa, tidak serta merta membuatnya tumbuh menjadi gadis yang penurut dan betah di rumah. Justru, sebaliknya, hasratnya untuk berjalan-jalan, backpacking-an keluar kota dengan motor matic Mio-nya lebih besar dari apapun.
            Dibalik hobinya yang tangguh, nyatanya Laras menyimpan kesedihan di hati kecilnya. Ia tinggal di rumah milik mamanya, yang berprofesi sebagai dosen dan jauh dari papanya yang bertempat tinggal di Jakarta, dengan pekerjaan sebagai produser pemberitaan di salah satu TV swasta. Sedari kecil ia jarang sekali memiliki banyak waktu dengan papanya (karena mereka berdua tinggal berjauhan, dan hanya sesekali bertemu), dan itu membuatnya sengsara. Dan, tak jarang, ia melihat eyang putrinya (yang terlalu keras kepala, kolot dan sinis terhadap orang lain yang tidak memiliki darah bangsawan) bertengkar dengan mamanya, soal papanya yang dianggap hanya “rakyat jelata” (karena tidak memiliki darah biru yang ia agung-agungkan). Sampai kemudian datanglah bencana itu: papa dan mamanya bercerai!
 

Goresan Pena Nena Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template