Selasa, 04 Oktober 2016

Farewell Party AMERTA 2016

Jum’at lalu (30/9), ada acara penutup buat panitia AMERTA 2016. Udah diberitahu dari jauh-jauh hari kalo ada farewell party, dan di detik-detik terakhir aku memutuskan datang. Aslinya sih aku gak bisa datang. Kalau sesuai rencana, hari Jumat sampai Minggu ini aku rencana ke Gunung Wilis, tapi gak jadi karena suatu alasan tertentu. Maka... yaudah, aku datang ke acara ini. Hitung-hitung perpisahan lah sama panitia-panitia AMERTA 2016 lain (padahal yang aku kenal cuma anak-anak PK Garuda 5 dan beberapa wajah-wajah yg familiar, meskipun ga pernah ngobrol).
            Jadi, acaranya berlokasi di kampus C, tepatnya di sebelah sekre BEM dan asrama puteri. Ada jalan yang di-paving, tempat parkir motor lebih tepatnya. Anak-anak AMERTA duduk di alas yang dahulunya dipakai untuk konfigurasi. Aku bertemu Rina (anak PK) dan Nabila (koor PK Garuda 5), selain itu ga ada orang lagi yang aku kenal. Well.. Sebenernya sudah ada sekitar 20-30 panitia lain, tapi aku ga kenal. Shella dan Isya (pubdok) pun ga ada. Mungkin karena aku datang terlalu ‘pagi’ (jam 4 sore), belum datang atau mereka yang memang berhalangan hadir?
            Farewell party ini punya beberapa agenda utama, seperti awarding (pemilihan panitia dengan predikat tertentu), evaluasi AMERTA, sajian musik dan makan-makan dong pastinya. Alasanku datang kesini sih cuma cari makan gratis dan ngumpul-ngumpul ama anak PK Garuda 5, haha. Waktu beranjak sore, anak-anak mulai berdatangan, seperti Fitri dan Pradit. Kami guyon-guyon sambil melakukan hal-hal random, wkwk. Trus ada Lyla, Diana, Afifah, Rani.
            Sore itu, sebelum gelap, beberapa panitia melakukan trial error dalam menyalakan lampion. Untungnya, api menyala dan bisa terbang, walau khawatir juga sih kalau apinya menyambar dedaunan, kabel listrik atau apalah. Ada pula awarding buat maba yang bikin sospro individu terbaik. Lalu, ada pemberitahuan kalau acaranya baru dimulai setelah shalat Magrib. Sudah ku duga kalau bakal molor, huff.
            Setelah magrib, langsung disetelkan video dan diisi dengan awarding. Di slide, ditampilkan daftar award yang ada, seperti panitia terbaper, terheboh, tergercep, teraniaya dan ter-famous. Pertamanya, untuk IC (panitia inti, kayak sie acara, sie pubdok, sie keamanan, sie komdis, sie medis, sie konsumsi) dulu, lalu ada khusus untuk PK. Award PK agak beda, seperti award untuk panitia terbaper, teraktif, ter-famous, terheboh dan ter-care. Untuk kriteria penilaiannya, aku gak tau, bisa saja subjektif karena yang dipilih rata-rata yang dikenal oleh panitia inti (panitia inti disini rata-rata anak BEM Unair), jadi semacam nepotisme mungkin, haha. Tapi aku gak peduli dengan itu. Award-nya dikasih kain selempang bertuliskan penghargaan yang mereka raih, serta buket yang berisi snack.
            Trus sebelum makan-makan ada kejadian (yang awalnya aku kira) menarik. Jadi, dimulai dari evaluasi mas Anang selaku ketua AMERTA, tentang kesalahan penulisan juknis dan modul, yang melibatkan lagu-lagu perjuangan kaum kiri (buruh, para sosialis, para kaum tertindas/marjinal). Mas Anang bilang kalau masalah itu hampir membuat AMERTA jatuh dan tidak lagi dipercayai oleh rektorat. Singkatnya seperti itu. Dan dia menekankan pada “lagu seperti itu dapat mengajarkan nilai-nilai komunis” and I’m gonna be like, “Excuse me? What do you know about it? I feel like we’re too goddamn afraid with communism, and every single thing that related with communism should be banned.”
            It’s pretty much similar with Orde Baru way of thinking.
            A brainwash. A terror that passed through the generation.
            It’s 2016, and not in an Orde Baru era anymore. There’s no such as thing as a communism (as an ideological or political party), neither about communism in economical perspective.
            Alright, kemudian yang terjadi adalah pemanggilan 2 orang anak sie acara dan ketua sie acara. Dengan wajah-wajah full of guilty dan suasana yang menjadi tegang, mereka dimarahi di depan panitia lain yang ga tau apa-apa. And then, suasana menjadi ricuh, there’s a lot of curse words, umpatan-umpatan yang dilontarkan ke pihak-pihak yang bersangkutan. Suasana menjadi kian tegang, dan Mas Anang memutuskan untuk mengakhiri acara.
            Wah, sejujurnya aku seneng sih ngelihat pertengkaran di depan mataku. Apalagi kalo aku gak terlibat, wehehe. Aku berharap justru suasana kian mencekam, sampe ada cakar-cakaran, jambak-jambakan dan bakar-bakaran (?). Di tengah-tengah suasana yang hening dan tegang, eh ternyata... ada ucapan happy birthday ke salah satu anak acara yang di setrap di depan umum.
            SETTINGAN RUPANYA, huh.
        *penonton kecewa* *layar diturunkan*


 Setelah itu, langsung deh ada sajian akustik dari tamu yang katanya dari Malang, lalu diteruskan dengan makan-makan. Ada nasi kotakan dari Bu Rudy yang terkenal itu, dan diam-diam aku memasukkan 1 kotak ke tasku, mengompori temen-temen PK lain untuk berbuat serupa, wkwk. Abisnya, panitia yang datang paling cuma separuh dari total populasi (300 anak), dan tentunya membuat porsi makanan jadi lebih-lebih. Pastinya ada yang sependapat dengan aku dan membawa pulang beberapa porsi sekaligus, hehe.
            After that, kami langsung menuju ke lapangan untuk menyalakan lampion. Kami diberi 2 lampion, warnanya ungu semua. Kami menyalakan lampion yang pertama, dan berhasil. Dipanaskan dulu, setelah panas, langsung otomatis bisa terbang. Langit yang hitam jadi penuh cahaya warna keemasan yang muncul dari api di dalam lampion. Rasa mellow dan riang bercampurbaur menjadi satu. Tapi, lampion yang kedua gagal terbang karena kertasnya sobek. Alex (sie acara) dengan sukarela membantu memadamkan api dengan sebotol air yang dibawakan oleh teman kami.
            Disela-sela menyalakan lampion itu, ada wacana dari PK Garuda 5 buat jalan-jalan. Mereka malah mengusulkan buat naik gunung, dan beberapa terlihat antusias karena belum pernah ke gunung sama sekali, kecuali aku dan Fitri. Well, ada begitu banyak hal yang perlu dipersiapkan sebelum naik, belum lagi pembagian bawa barang-barang, tenda, logistik, hingga perlengkapan pribadi. Belum juga mempersiapkan fisik untuk naik. Seenggaknya, mereka harus kuat jalan 4 jam di jalanan yang vertikal. Aku yakin sih mereka fisiknya jauh lebih kuat dari aku (aku gampang ngos-ngosan, kompensasi dari berat badan berlebih). Cuman memang karena belum terbiasa, bisa jadi malah kaget. Tapi semisal Gunung Penanggungan sih aku bisa aja jadi leader mereka. 3 kali naik Penanggungan tapi belum hapal track-nya adalah hal yang memalukan, hehe.
            In the end, kami selfie-selfie lalu memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Yaiyalah, udah jam 21.00 lebih, waktunya istirahat hehe.

0 komentar:

Posting Komentar

Think twice before you start typing! ;)

 

Goresan Pena Nena Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template