Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 November 2017

When The Sky Turns Black [FICTION SERIES]

0 komentar
"Please, take me somewhere, away from here..."
 Someone left handwriting in a small size, under my notebook. It's a thin one, a little bit italic, written with pen. Seems like I know who did this. And I know exactly where to find her.

I walked out from my cubicle. The article not yet finish, I know, I really aware that my editor would be mad at me. But that's not important for me, at least right now.


I need to find her.

After The Rain

0 komentar
It was a cold night.
I walked down in the empty street, trying to avoid dirt on the ground. Must be very careful to make my white shoes didn't ended up dirty. Rain just fell down few hours ago, left mark on asphalt and grass.

Jumat, 26 Mei 2017

Lamunan Dini Hari

0 komentar
Into the everblack from where
there’s no coming back
–The Black Dahlia Murder
Jika dirunut, tujuan kita hidup sebenarnya sudah sangat jelas. Sejernih air di permukaan danau pada pagi, seterang angkasa raya kala siang. Alur yang sama, tak pernah berubah sejak manusia pertama tercipta. Kronologis yang sama, tanpa bisa melawan dan kita hanyut bagaikan dedaunan layu yang terbawa oleh arus deras.
Kita dulunya pernah lemah. Benih-benih mani hasil ejakulasi yang bisa mati dalam hitungan menit. Sel telur yang runtuh, meluruh berwujud darah dan berbau seamis ikan. Kau pernah berwujud seperti itu, dulu. Tapi nyatanya, keduanya bertemu. Ribuan sel-sel bekerja keras menyusun komposisi tubuh. Minggu ini, kau hanya segumpalan darah. Bulan depan, jantungmu tercipta. Trimester selanjutnya, organ-organmu mulai menyelaras sempurna. Dan datanglah hari itu: kelahiranmu.

Jumat, 19 Mei 2017

Temaram #2

0 komentar
                This love was out of control
            Tell me where did it go?
–Pierce The Veil
Seminggu terakhir, aku terbangun jauh lebih lambat dari alarm yang ku pasang. Tapi, khusus hari ini, aku bisa kembali terbangun tepat waktu. Sebenarnya, aku masih ingin berkubang di dalam kesenyapan, menghabiskan hari bergelung di ranjang dan mendengarkan lagu cengeng hingga petang menjelang. Namun, hari ini aku sudah berjanji pada Robbin, staf HRD, untuk masuk. Satu hari lagi ku habiskan tanpa keterangan, maka SP1 akan dilayangkan. Aku tidak mau membuang waktu untuk mencari pekerjaan baru di tengah usia 27 seperti ini.
            Dengan malas, kusibakkan tirai. Langit masih berwarna kebiruan, larik-larik jingga menghias ufuk timur. Alam masih menampakkan keindahannya, rupanya. Ku kira, tak ada lagi yang bersahabat denganku. Kondisi luar kamar apartemen rupanya berbeda jauh dengan di dalam. Jangan tanya kenapa tumpukan box pizza belum dibuang, bungkus saus berceceran maupun pakaian tergeletak di seluruh ruangan. Dalam kondisi kejiwaan yang normal, aku tak betah membiarkan debu sedikitpun bersarang di kamar. Tapi, sungguh berbeda dengan yang terjadi selama seminggu terakhir.
            Ayo, Dave, lawan setan-setan yang bersarang di kepalamu, bisik suara itu.

Sabtu, 13 Mei 2017

Temaram #1

0 komentar
Remang. Aku tak bisa mengartikan sorot mata itu. Teduh, namun terlihat lapar, inginkan sentuhan. Pun juga senyuman di sudut bibirmu.  Apakah itu untukku?
Menggeleng, ku hapuskan pikiran sia-sia itu. Mengalihkan tatapan pada langit-langit ruangan. Tak ada noda sejauh mata memandang. Ku larikan jauh-jauh perasaan, karena ku tak ingin lagi terluka.
Namun, sekuat apapun aku berusaha, egoku runtuh juga.
***

Jumat, 12 Mei 2017

Bisik Sunyi di Tengah Malam

4 komentar
12 Mei 2017 – 00.20
Aku terbangun dengan perasaan rindu.
Pada seseorang yang sama sekali bukan milikku...
Gelisah, tanganku terjulur, menggapai-gapai dalam gelap. Lampu kamarku memang telah padam sejak pukul 23.00 tadi. Menemukan benda persegi panjang, yang ketika ditekan memunculkan cahaya menyilaukan. Tiba-tiba aku sudah mendarat di profilnya. Tertera nama dan foto, serta pilihan untuk menelepon, membuka obrolan atau video call. Mengabaikan semua itu, jariku menyentuh foto profilnya. Terdiam. Hanya menatap hal yang sama, selama bermenit-menit lamanya. Yang berteriak lantang hanya lamunanku, bibirku tetap terkunci. Pun, tak ku miliki keberanian untuk menyapa terlebih dahulu. Pecundang! bisikku dalam hati.
Hening. Sekian puluh tahun rasanya terlewat. Seperti time travel, pikiranku kembali saat menjumpainya beberapa bulan yang lalu. Saat ku pertama kali mengenalnya. Tapi, belum tumbuh rasa sukaku padanya, tunasnya pun tidak. Masih menabur benih di ladang, ku rasa. Rupanya, alam bawah sadarku berkata lain: ia berbeda. Dan, ya. Aku menyukainya.
Kamu.
Laki-laki yang menarik, sungguh.

Rabu, 18 Mei 2016

Bisikan Rindu Kelabu

0 komentar
Di tempat ini, aku menemukan arti dari kata ‘pulang’.
            Bumi tempat kakiku berpijak sekarang tidak berada pada satu lokasi yang sedang kalian bayangkan: rumah. Tidak pada pagar depan dengan jeruji besi yang mengelilingi sepetak tanah warisan, tidak pada ubin-ubin putih licin berkilau yang memantulkan bayangan, tidak pada atap genting, plafon maupun asbes yang melindungi dari sengat panas dan dingin hujan, tidak pada meja, kursi, sofa, kipas angin maupun meja setrika, tidak pada rak-rak penuh piring, mangkuk, sendok, panci, wajan, pisau, kompor dan tabung gas LPG, maupun laci berisi sebakul nasi, bakwan jagung dan sayur bayam, tidak pada sikat gigi warna-warni yang berjejer dan air yang menggenang dalam bak mandi berkeramik beserta gayung plastik yang biasanya mengambang, tidak pula pada kasur kapuk merah muda yang diselimuti oleh seprai halus bermotif dan bantal guling diatasnya. Tidak ada satupun dari yang ku sebutkan, yang membuat kakiku tak sabar ingin melangkah dan merebah.
            Kau salah. Rumah tidak digambarkan dalam wujud materiilnya saja, Tuan, begitu katamu lantang. Kalaupun begitu, wajah-wajah yang bercokol di dalam tak sedikit pun menimbulkan kerinduan. Dua manusia yang memiliki hubungan darah denganku. Wajah mereka, laiknya wajah-wajah manusia lain di halte bus, di loket kereta api, di antrean kasir, di atas eskalator tempat perbelanjaan dan di atas kendaraan yang melaju kencang di jalanan, tidaklah beda. Dingin, beku dan kaku. Menatap dan berucap seperlunya. Interaksi minim yang hadir karena keterpaksaan. Bak orang asing yang dapat kau temui dengan mudah di mana saja.

Jumat, 08 April 2016

Bisikan Bintang (MINI-SHORT STORY)

0 komentar
Hadir karena rindu, pergi karena jemu.
     Bak terminal bus antar kota, tanah beraspal yang luas, tak serta merta menjanjikan sekuritas. Lalu-lalang orang, juga bisingnya derapan kendaraan, tidak pula menampakkan kenyamanan. Semua yang berkaki dan beroda, seolah tengah diburu oleh marabahaya.  Tidak satupun yang menyapa ramah atau sekedar bertegur sapa. Sebaliknya, hanya senyum masam dan langkah gusar yang berulang kali diedarkan disana.
     Astaga, itu pula yang terjadi pada kita.

Kamis, 07 April 2016

Ia yang Hadir Merayu Sukma (MINI-SHORT STORY)

0 komentar
“Tak ada cinta muncul mendadak,
karena dia anak kebudayaan, bukan batu dari langit.”

Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer
Bahkan apa yang kau katakan mengenai cinta pada pandangan pertama yang begitu palsu, basi dan mengada-ada, sebenarnya nyata. “Tidak, tidak ada yang seperti itu.” ucapmu sambil membuang muka. Hanya kau lah yang menutup diri dari rintik asmara yang jatuh menggerimis pada permukaan hati yang selalu kau selimuti dengan tameng baja. Memproteksi diri agar cinta yang kau bilang lemah, tidak hadir tiba-tiba dan mengacaukan segalanya.

Rabu, 06 April 2016

Sepasang Kaki yang (Tak Ingin) Selalu Terkatup

5 komentar


Aku ingin tidur dengan banyak laki-laki.

Sepotong tubuh ranum milik Sessyl terbolak-balik di atas ranjang, berguling-gulingan dengan gusar. Kelopak yang dihiasi bulu mata seperti ekor merak tak jua memejam. Sesekali, sebilah tangannya menyeka bulir-bulir air yang mengucur deras di dahi. Baling-baling kipas angin yang terus berputar seolah tak bisa menghapus titik-titik keringat yang terus berjatuhan. Usai menyeka, tangannya dirapatkan kembali untuk mendekap guling kesayangannya. Mencari sedikit kenyamanan dari sebuah bantal, guling dan kasur kapuk bermodel lama. Menghempaskan beratnya kepala (dan isinya) pada lembut dakron-dakron yang menggeliat di dalamnya.

Jumat, 01 April 2016

Jejak dalam Malam (CERPEN)

0 komentar
Gelap.
            Rem yang diinjak dengan telapak kaki kanan menghentikan gerak motor seketika. Rembulan masih menyenandungkan sinarnya yang merambat pada bilah-bilah batang bambu. Berbaur dengan cahaya lampu neon yang dikerubungi ribuan laron dibawah bangunan kayu. Sayup-sayup, bau mesin yang terpanggang menguar bersamaan dengan rasa mencekam yang seketika menghantui ulu hatiku. 
            Nyatakah ini? Rasa takut yang berpendar pada bulu halus tanganku?

Selasa, 22 Maret 2016

Gadis Kecil dan Kastangel Kering (CERPEN)

0 komentar
Duduk.

Hanya duduk dan diam. Tenggelam dalam lautan lamunan dan angan. Kedua belah tangannya dirapatkan ke paha, sementara matanya menjelajah kemana-mana. Pada setangkai anggrek plastik yang dijadikan hiasan meja. Pada cangkir-cangkir keramik yang berisi teh panas yang mengepulkan asap. Pada ubin putih mengilap yang memantulkan bayangan.
"Nak, ingat pesan ibu," wanti Marinah, ibunya, pagi ini saat ia tengah mengancingkan baju muslim. Peninggalan almarhum Bapak, tiga lebaran yang lalu. Ia sontak menoleh, menghadap perempuan berusia empat puluhan itu. "Nanti, di rumah Lik Yanti, bersikaplah seperti yang ibu ajarkan!"

Sabtu, 11 Juli 2015

Pasar Seribu Wajah

0 komentar
Pagi-pagi ini kaki ku langkahkan menuju pasar dekat rumah. Hanya 500 meter saja jaraknya. Sembari memasang jaket, mencoba mengusir hawa dingin dan dorongan untuk tidur kembali, sepasang alas kaki ku susupkan diantara celah-celah jemari. Siap pergi.
            Selalu ada yang berbeda di setiap pagi. Bersihnya udara adalah salah satu yang pasti, menyambutmu dengan senyuman tanpa henti. Hirup! Cobalah hirup! Betapapun bisingnya kota ini, pagi hari selalu menawarkan sesuatu yang sama sekali baru. Jerejuk oksigen-oksigen baru dari pucuk-pucuk daun bergelung dalam paru-paru. Bekas-bekas tetesan embun memeluk dengan kesejukan yang memikat.

Minggu, 14 Juni 2015

Sajak Ketinggian (Atau Kerinduan?)

0 komentar
Dokumentasi pribadi

Sore ini ku biarkan diriku tenggelam dalam buraian air mata. Tidak, tidak sepenuhnya menderas pada wajah, hanya titik-titik buram yang mewarnai sudut mata. Basah. Hatiku berkondisi sama. 

Tak ada emosi yang perlu dikontrol, setidaknya, sore ini saja. Sebagaimana sesuatu yang langka, dibiarkan sekehendak hatinya untuk melakukan apa saja. Jadi, aku tak menyalahkannya jika ia muncul dalam bentuk air mata, yang melembab saat ku tengah berkendara. 

Minggu, 12 April 2015

Gelungan dalam Ruangan

0 komentar
Kamar ini berbau seperti kematian. Tapi, aku tetap tinggal didalamnya.
          Lihatlah kasurnya yang berasal dari jalinan serat kapas yang keras, dilapisi oleh kain usang berwarna merah muda dan putih. Tembok-tembok bercat putih, mengelupas, membentuk kerak-kerak layaknya benua. Bahkan, jika kau iseng, kau bisa membuat benuamu sendiri, dengan menguikkan ujung kukumu yang tajam, lalu kelupaslah hingga kau puas. Beberapa kali aku membuat karya, dengan membentukkan benuaku sendiri, Amerika atau Afrika, yang telah di modifikasi.

Senin, 30 Maret 2015

Lumpur Hisap

0 komentar
Pohon itu melihatnya. Begitu pula ranting-ranting dan dedaunan yang menempel pada batang kambiumnya. Mungkin, lampu-lampu yang berjajar itu juga, tapi mereka terlalu jauh untuk menatap lebih detail pada apa yang terpancar.
                Beruntunglah rerumputan itu, yang memiliki akses tertinggi untuk melihat tayangan di atasnya. Suara-suara itu pun tertangkap dengan jernih, tak ada satu perkataan pun yang terlewat.

Minggu, 15 Maret 2015

Patung

0 komentar

            Lalu jika tak kau izinkan ku untuk bersuara, lantas untuk apa kau ciptakan aku dahulu sembilan belas tahun silam?
            Dan disinilah aku.
            Di bawah atap sebuah bangunan dua lantai yang biasa, dan menjalani juga kehidupan yang biasa. Menumpang orang tua. Tanpa pekerjaan, tanpa apapun yang bisa dibanggakan.


            Dahulu kehidupanku tak seperti ini. Entah mengapa setiap detik yang terdetak menghembuskan sekat-sekat yang kian nyata adanya. Menciptakan ruang. Menciptakan spasi. Walau bukan dalam liteatur atau konteks yang nyata.

Rabu, 11 Maret 2015

Kucing

0 komentar
Jalanan lengang siang itu. Di bawah rimbun dan kekarnya pohon mangga, ternaungi beberapa ekor kucing. Dua betina, dua jantan, dan satu anakan betina. Menguap malas, menggelungkan tubuh kala semilir angin membelai bulu-bulu mereka.


            Salah satu bersuara. “Aku benci manusia.” Dijilatnya bulu pendek yang berwarna putih keabu-abuan. Bukan karena coraknya, tetapi karena terlalu sering bergumul dengan debu jalanan. Dekil. Carut-marut dan noda darah kering ada dimana-mana.

Angin Muson di Tengkuk

0 komentar
Jadi... Apa yang merasukiku?
            Terhitung dua tahun mundur bila mengingat kapan rasa frustasi ini terakhir datang. Menyerangku hingga lumpuh. Membekukanku hingga menjadi batu. Lalu, boom! Meledak begitu saja tanpa ada mesiu memicunya. Tumbuh lagi kefrustasian itu padahal rasanya telah ku kubur jauh-jauh bersama yang lalu. Ia bangkit kembali dari peti mati kayunya.


            Aku tidak mengenalnya, itu yang selalu ku katakan pada diriku sendiri.

Sabtu, 07 Maret 2015

Lorong

0 komentar

“Maukah kau bermalam didalam lorongku, Tuan?”


            Tapi kata-kata itu lebih dahulu tertelan daripada di muntahkan, bergerak meluncur turun ke dalam pusaran seperti air comberan dalam gorong-gorong panjang. Setiap kali hendak berucap, bibir pucatnya terkatup erat. Tertahan, entah oleh apa.
 

Goresan Pena Nena Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template