Jumat, 12 Mei 2017

Bisik Sunyi di Tengah Malam

12 Mei 2017 – 00.20
Aku terbangun dengan perasaan rindu.
Pada seseorang yang sama sekali bukan milikku...
Gelisah, tanganku terjulur, menggapai-gapai dalam gelap. Lampu kamarku memang telah padam sejak pukul 23.00 tadi. Menemukan benda persegi panjang, yang ketika ditekan memunculkan cahaya menyilaukan. Tiba-tiba aku sudah mendarat di profilnya. Tertera nama dan foto, serta pilihan untuk menelepon, membuka obrolan atau video call. Mengabaikan semua itu, jariku menyentuh foto profilnya. Terdiam. Hanya menatap hal yang sama, selama bermenit-menit lamanya. Yang berteriak lantang hanya lamunanku, bibirku tetap terkunci. Pun, tak ku miliki keberanian untuk menyapa terlebih dahulu. Pecundang! bisikku dalam hati.
Hening. Sekian puluh tahun rasanya terlewat. Seperti time travel, pikiranku kembali saat menjumpainya beberapa bulan yang lalu. Saat ku pertama kali mengenalnya. Tapi, belum tumbuh rasa sukaku padanya, tunasnya pun tidak. Masih menabur benih di ladang, ku rasa. Rupanya, alam bawah sadarku berkata lain: ia berbeda. Dan, ya. Aku menyukainya.
Kamu.
Laki-laki yang menarik, sungguh.


12 Mei 2017 – 00.51
Untuk menyebutnya sebagai yang terakhir, aku tidak yakin. Memangnya, aku cenayang? Dari mana aku tahu? Urusan itu sungguh gelap. Benar-benar tiada cahaya, hingga pupil mata ku paksa untuk mengejan, lalu pecah. Detik ini, secara resmi aku buta. Biarlah, toh sama saja, tidak bisa melihat cahaya walau sekecil kuman sekalipun.
Tak bisa ku pungkiri, setegar apapun ku tunjukkan, ada kegelisahan membayang. Beberapa temanku sudah menikah, bahkan sebelum mereka beranjak dua puluh. Ada yang belum genap dua puluh dua, tapi telah memiliki dua orang bocah di rumahnya. Beberapa telah menjalin hubungan spesial selama bertahun-tahun, dan ada indikasi kuat bahwa mereka akan berlanjut ke jenjang lebih tinggi. Beberapa baru menjalin kasih dengan orang yang benar-benar baru. Sisanya? Adalah pecundang-pecundang sepertiku, yang tak memiliki apa-apa untuk dijual.
Kami berdiri di pojokan, dengan penerangan seadanya dan kabut melapisi wajah. Menyaksikan drama kehidupan berganti, tanpa tahu kapan giliran kami. Memaki dalam hati ketika orang yang kami kenal menyia-nyiakan cinta yang telah ia genggam. Bangsat! Begitu mudahnya mereka! Lalu, seperti berganti kaus kaki, mereka mendapatkan penggantinya dalam hitungan hari. Betapa hebat. Ilmu apa yang mereka punya? Hasil bersemedi di goa mana?
Ah, sungguh.
Lebih mudah mengerjakan soal SBMPTN lalu lulus dan masuk perguruan tinggi negeri, dibanding mendapatkan kekasih, ya? Setidaknya, itu yang aku alami.

12 Mei 2017 – 01.08
Ia laki-laki yang berbeda. Dalam studi feminis yang ku pelajari mulai semester 3, kami menyebutnya maskulin. Male-masculine, menurut Prof. Rachmah Ida, dosen favoritku. Garang. Dengan tampilannya yang demikian, rasa-rasanya tak susah baginya untuk mendapatkan wanita mana saja. Dan, memang demikian. Instagram-nya banjir dengan komentar perempuan-perempuan, sebagian genit memang, yang tak ku ketahui mereka siapa dan ia bertemu dengan mereka semua dimana. Mungkin, sudah ada satu yang telah ditiduri. Mungkin dua. Mungkin sepuluh. Mungkin juga tidak. Ia bisa memanfaatkan pesonanya untuk itu, kan? Semuanya serba tidak pasti.
Dan lagi-lagi, aku hanya bisa menatap di pojokan. Ruang temaram tempat biasa ku bersandar. Tanpa bisa berbuat apa-apa. Tanpa bisa merubah. Bahkan keberuntunganku sekalipun, telah lebur dan mati sejak lama.
Sebagian diriku mengutuk diri sendiri. Betapa memalukan seorang feminis dengan prinsip-prinsip tangguhnya, namun tak memiliki daya untuk melakukan apapun yang ia bisa. Secara teori, kami memang diajarkan untuk being talkative, being active not passive. Tapi implementasinya? Masyarakat kita masih menghujat perempuan-perempuan yang memiliki bara di hatinya untuk mengungkapkan perasaan. Mengejar-ngejar? Apalagi itu. Sirna sudah kesempatan untuk mendapatkan feedback perasaan, justru yang ada ia akan semakin menjauh.

12 Mei 2017 – 01.23
“Betapa bodohnya.”
“Tapi....”
“Jadi, kau akan membiarkan dirimu menanti?”
“Tunggu sebentar...”
“Dan jika kau terlambat bergerak, kau akan menyaksikan dirimu dan dirinya di kuade pelaminan. Bukan, bukan. Kalian tidak akan menikah, kau datang sebagai tamu dan ia berdiri, berseri-seri, tegak sebagai pengantin baru. Dengan seorang perempuan lain disampingnya.”
“Itu sangat menyedihkan.”
“Ya, memang.”
“Lantas, aku harus apa?”
“Pertanyaan bodoh lagi.”
“Masalahnya, tidak semudah itu. Kau mau aku untuk menyatakan perasaan?”
“Kalau bukan itu, lalu apa?”
“Lalu aku akan membuat kekacauan, tentu saja. Menggemparkan orang-orang. Membuat mereka menertawakanku dari belakang. Membuatku tersisih.”
“Kalau yang terjadi sebaliknya?”
“Itu tidak mungkin. Apa yang ia cari dari aku? Aku tidak punya apa-apa untuk dibanggakan, selain menuliskan gerutuan dan mengubahnya menjadi uang. Tidak ada laki-laki yang mau beresiko menghabiskan sisa hidupnya denganku.”
“Rumit, ya?”
“Tuh kan. Kau sendiri bahkan sudah mulai ragu. Aku adalah segala sesuatu yang mereka sebut dengan marjinal, outcast. Bahkan, aku bukan pilihan terakhir. Aku orang buangan.”
“Kau tidak begitu.”
“Aku sudah berusaha mengubah semuanya. Well. Tidak juga sih. Hanya wajah dengan polesan saja. Tapi, itu tidak cukup, kan? Dibalik itu, aku masih saja seorang ugly duckling. Aku telur bebek yang tersasar dalam kandang angsa putih. Aku menetas di tempat yang salah.”
“Berhentilah.”
Bullshit juga, ya? Semua orang berkoar-koar untuk menerima diri apa adanya, di media sosial, di iklan, di media massa. Tapi, ketika dihadapkan pada situasi yang nyata, semuanya lari-tunggang langgang. Bergerak serabutan ke arah status quo yang dilanggengkan.  Memuja kondisi fisik yang menawan. Dan yang tidak, akan tersingkirkan.”
“Aku tidak tahu harus berkata apa.”
“Aku juga.”
“Mari kita akhiri semua ini.”
“Kau menyuruhku mati, begitu?”
“Bukan. Tulisan ini.”
“Oke.”

Credit picture: Favim.com

3 komentar:

  1. Hai nena, aku sudah lihat blogmu dari lama. Aku salah satu fans beratmu. Aku harap kita bisa kenal lebih dekat hehe ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo :)
      Serius? Blog sampah kayak gini? Wah makasih banyak yaa, nggak nyangka wkwk
      Sure you can, kenapa enggak? :)

      Hapus

Think twice before you start typing! ;)

 

Goresan Pena Nena Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template