Tampilkan postingan dengan label Tulisan Ilmiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan Ilmiah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 November 2016

Brand, Prestise dan Kapitalisme Global

0 komentar
Pernah mendengar Starbucks, Coca Cola dan McDonald? Barangkali, tak sekedar mengenal namanya, namun sebagian besar orang sudah pernah memakainya. Bahkan, sebagian orang lain telah menjadi konsumer loyal atas brand tersebut.  Ketiga brand tersebut (Starbucks, Coca Cola dan McDonald) berasal dari Amerika. Starbucks dari Seattle, Coca Cola dari Atlanta, Georgia dan McDonald dari San Bernardino, California. Dan ketiganya merupakan brand yang sudah menglobal dan memiliki tingkat penjualan yang fantastis.
 
Gambar 1: Starbucks dalam film “Empire – McAmerica: The Success Secrets of Brand USA”
            Ada alasan-alasan tertentu mengapa banyak orang di berbagai belahan dunia tetap menggunakan brand tersebut, walau terkadang harga jual produk dari brand tersebut jauh lebih tinggi dibanding produk lain yang sejenis. Starbucks misalnya, menjual minuman kopinya mulai harga Rp. 30.000 hingga Rp. 50.000 (belum termasuk PPN 10%). Padahal, di coffe bar lokal, harganya bisa jauh lebih murah. Sebagian orang menilai bahwa Starbucks tak hanya menjual produk kopi dengan citarasa yang enak, namun juga memakai service yang ramah kepada pelanggan sebagai salah satu komoditinya. Selain itu, kedai Starbucks selalu memiliki tampilan yang modern, mewah dan berkelas, ditambah dengan fasilitas WiFi yang kencang, yang juga menjadi daya tarik bagi konsumer setia mereka.

Senin, 14 November 2016

Representasi Multikulturalisme pada Buku Pelajaran Kelas 2 SD

0 komentar

Ditulis oleh: Nena Zakiah
Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga - Semester 5
Sebagai tugas UTS Komunikasi dan Multikulturalisme 

PENDAHULUAN
Penanaman nilai-nilai multikulturalisme bukan lagi barang baru di Indonesia. Berbagai jenis medium menawarkan pesan-pesan dan ideologi multikultural, mulai dari film, program TV, karya jurnalistik, hingga buku-buku, baik buku fiksi, non-fiksi, hingga buku pelajaran. Tak pelak, medium-medium tersebut memiliki andil yang besar dalam menanamkan nilai-nilai multikulturalisme.
Dilansir dari Your Dictionary[1], pengertian multikultural adalah sesuatu yang menggabungkan ide-ide, keyakinan atau orang-orang dari banyak negara dan latar belakang budaya yang berbeda. Sementara menurut Rosado[2], multikulturalisme adalah sistem keyakinan dan perilaku yang mengakui dan menghormati perbedaan dalam suatu kelompok atau organisasi masyarakat, mengakui dan menghargai perbedaan sosio-kultural dan mendorong mereka terus berkontribusi di dalam sebuah konteks budaya yang memberdayakan seluruh organisasi dan masyarakat. Apabila disimpulkan, maka pengertian mengenai multikultural adalah kesadaran akan adanya perbedaan, baik perbedaan budaya, keyakinan hingga ide-ide dan bagaimana manusia menerima, menghargai dan menghormati perbedaan tersebut.
Multikulturalisme merupakan antitesis dari monokulturalisme, dimana paham tersebut lebih menekankan pada keseragaman daripada keberagaman. Dikutip dari English Oxford Living Dictionaries[3], monokulturalisme adalah kebijakan atau proses yang mendukung, mengadvokasi, atau memungkinkan ekspresi budaya dari satu kelompok sosial atau etnis. Dalam paham monokulturalisme, ada satu kelompok sosial yang menonjol dibanding kelompok-kelompok sosial yang lain. Dominasi tersebut muncul dari segi jumlah (quantity), dimana kelompok tersebut memiliki jumlah yang jauh lebih banyak dibanding kelompok sosial lainnya. Keseragaman dalam negara monokultural dilihat dari kesamaan ras, etnis, budaya dan kepercayaan. Beberapa negara monokultural adalah Jepang, China, Korea Utara dan Korea Selatan.
Indonesia adalah negara yang multikultural, hal itu jelas terlihat dari ras (Mongoloid, dengan sub-ras Malayan-Mongoloid dan Asiatik-Mongoloid, Melanesia serta sebagian kecil ras Kaukasia), agama (Islam, Kristen-Protestan, Kristen-Katholik, Hindhu, Buddha, Kong Hu Cu), aliran kepercayaan seperti animisme dan dinamisme, hingga suku, yang dilansir dari laman Badan Pusat Statistik[4], dalam Sensus Penduduk 2010 (SP2010) memiliki jumlah 633 suku. Selain itu, terdapat semboyan bangsa Indonesia yang merepresentasikan ideologi multikultural, yakni Bhinneka Tunggal Ika, yang memiliki arti berbeda-beda tetapi tetap satu. Kalimat ini terdapat di dalam lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila, tepatnya di dalam pita berwarna putih yang dicengkram oleh kaki burung garuda. Kalimat ini sejatinya telah diciptakan beberapa abad yang lalu, tepatnya pada abad ke-14 oleh Mpu Tantular dalam Kitab Sutasoma. Lalu, menjelang proklamasi, kalimat ini diusulkan oleh Muhammad Yamin kepada Soekarno sebagai semboyan negara.[5]
 

Goresan Pena Nena Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template