Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Juni 2017

Having Kid(s): Logical Reasons, Clueless or Social Pressure?

0 komentar
I met my highschool friend, few days ago. She was born in July 1995, a year older than me. She already have her second child, who was born in April 2017. Her first child born in 2015. If you followed my Instagram account, then you will know who she is. Alright, we were not see each other since 2015 (when I came to her house to see her baby), and we arranged to meet in a mall in North Surabaya. Not far from her mother-in law house and our highschool.
So, things going on very well. She told me about her life: marriage, kids, husband, job and et cetera. But, I actually have a some kind of secret mission (okay, this is not a secret anymore, haha). My mission is: to find out why she decided to having children. I mean, people having children with purpose, right? It must be any logical reason why people produce more and more babies in the world.
“So... You already have two kids. Are you planning to have another one?” I asked.
“I don’t know, maybe when my daughters getting into elementary school,” she answered.

Selasa, 13 Desember 2016

Boycott, Hatred and Propaganda

0 komentar
Alright everyone. I’m gonna tell you something you’d probably don’t know about me. It first happens when I was in junior high school. When I was 13 or 14 years old until first year of college, I am a part of ‘boycott-Jewish product’ society. I stopped consuming anything from ‘Jewish’ corporation, for example: McDonald, KFC, even Unilever products, and turned into another product that ‘safe’ from ‘Jewish’. Is it strange, doesn’t it? You may had a question: from WHERE I got this idea in my mind?
            Well. I remember I’ve been read a book about boycott Jewish corporations and their products. I bought this book from bookstore in Jalan Semarang. It described that if we buy their products, we are ACTIVELY participated for war in middle east country. Their profit will used for support war, for support Israel, for killing our ‘brother’ in Palestine. I also read a plenty of article in websites that supported this issue. Time passed by, I start to accepeted this, and trying to avoid ‘Jewish’ products. My idealism shocked my friends in junior high school, when we got a gathering in Ramadhan, in KFC Delta Plaza, I remember that I didn’t buy anything from KFC. Not because I didn’t have money, but for my own idealism not to buy Jewish products. Beside that, I got my own food from home or from supermarket, like snacks or something. So, yes, I’m saved from starvation when I gathered with my friends (LOL).
            I once remember about giving comment in Facebook, about my thoughts not to buy ‘Jewish’ products. Surprisingly, A LOT of people support me to do so. I had thousands likes and hundreds of comments, mostly support my ‘bravery’ to avoid ‘Jewish’ product. But, time flies, and now I don’t even understand my own thought in that time. Like, seriously, IT WAS ME?

Rabu, 25 Mei 2016

Peyempuan : Ketika Perempuan Kian Memarjinalkan Dirinya Sendiri

0 komentar
Judul buku: Peyempuan
Nama pengarang: @peyemp
Tahun terbit: 2013
Penerbit: TransMedia Pustaka
Jumlah halaman: 202 halaman

“Banyak rahasia di dalam diri seorang perempuan yang tidak diketahui oleh laki-laki. Kami memilih untuk menyimpannya rapat-rapat.” ~ adalah dua kalimat utama yang dituliskan pada halaman sampul buku ini. Dengan segera, saya dapat meramal bagaimana keseluruhan buku ini akan dituliskan, bahkan sebelum saya sempat membuka lembar pertamanya. 
      Dan benar saja. Buku ini tidak menawarkan semangat empowering yang akhir-akhir ini kian digalakkan oleh aktivis feminisme di negeri ini, namun sebaliknya, @peyemp, pengarang buku ini justru menempatkan posisi perempuan menjadi semakin inferior di dalam lingkungan patriarkis masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak? Tulisan, cuitan di Twitter, contoh-contoh kasus hingga jokes yang dilontarkan pun semakin memberi tekanan bahwa perempuan adalah makhluk yang tak berdaya dan lemah. Mau bukti?

Senin, 18 Januari 2016

Ada yang Salah dengan Pendakian? Inilah Alasan Mengapa Pikiran itu Harus Jauh-jauh Disingkirkan

0 komentar
Setidaknya, baru ada dua orang dalam hidupku yang mengatakan kepadaku secara langsung, “Untuk apa naik gunung?” “Kenapa harus mendaki atau main jauh-jauh?” dan sejenisnya. Gestur tubuh dan raut muka mereka menunjukkan ketidaksukaan. Bahkan, hampir terang-terangan melarang. Bagiku, pertanyaan itu sama sekali tidak masuk akal, mengingat pendakian adalah suatu aktivitas yang normal, tidak menyangkut kriminalitas dan tidak dilarang oleh hukum. Tapi, lagi-lagi, pertanyaan tolol seperti itu masih terujar dari mulut banyak orang.
Menghujat keindahan seperti ini? Yang benar saja
            Bisa dibilang, pertanyaan seperti tadi bisa membuatku tersinggung berat. Bagaimana tidak? Aku mencintai pendakian, sama seperti aku mencintai setiap jengkal hidupku. Aku mencintai alam, aku mencintai petualangan, bahkan kecenderungan itu sudah muncul ketika aku masih kecil. Aku suka berjalan-jalan, berkeliling tanpa tujuan. Aku suka berada di taman. Aku sering kesasar ke suatu tempat yang asing, tapi aku menikmatinya tanpa merasa gelisah. Aku suka berada di tempat-tempat baru. Bahkan, aku sudah mendaki ketika usiaku masih 12 tahun. Ini pilihanku. Ini caraku untuk lebih menghargai kehidupan yang Tuhan berikan kepadaku. Ini jalan hidupku. Dan terlebih, ini tidak ada urusannya dengan hidupmu. Kecintaanku pada alam sama seperti kecintaanmu pada hidupmu, pada keluargamu, dan segala bentuk cinta yang ada tidak boleh dimusnahkan atau dilarang.
 

Goresan Pena Nena Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template