Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Mei 2016

Bisikan Rindu Kelabu

0 komentar
Di tempat ini, aku menemukan arti dari kata ‘pulang’.
            Bumi tempat kakiku berpijak sekarang tidak berada pada satu lokasi yang sedang kalian bayangkan: rumah. Tidak pada pagar depan dengan jeruji besi yang mengelilingi sepetak tanah warisan, tidak pada ubin-ubin putih licin berkilau yang memantulkan bayangan, tidak pada atap genting, plafon maupun asbes yang melindungi dari sengat panas dan dingin hujan, tidak pada meja, kursi, sofa, kipas angin maupun meja setrika, tidak pada rak-rak penuh piring, mangkuk, sendok, panci, wajan, pisau, kompor dan tabung gas LPG, maupun laci berisi sebakul nasi, bakwan jagung dan sayur bayam, tidak pada sikat gigi warna-warni yang berjejer dan air yang menggenang dalam bak mandi berkeramik beserta gayung plastik yang biasanya mengambang, tidak pula pada kasur kapuk merah muda yang diselimuti oleh seprai halus bermotif dan bantal guling diatasnya. Tidak ada satupun dari yang ku sebutkan, yang membuat kakiku tak sabar ingin melangkah dan merebah.
            Kau salah. Rumah tidak digambarkan dalam wujud materiilnya saja, Tuan, begitu katamu lantang. Kalaupun begitu, wajah-wajah yang bercokol di dalam tak sedikit pun menimbulkan kerinduan. Dua manusia yang memiliki hubungan darah denganku. Wajah mereka, laiknya wajah-wajah manusia lain di halte bus, di loket kereta api, di antrean kasir, di atas eskalator tempat perbelanjaan dan di atas kendaraan yang melaju kencang di jalanan, tidaklah beda. Dingin, beku dan kaku. Menatap dan berucap seperlunya. Interaksi minim yang hadir karena keterpaksaan. Bak orang asing yang dapat kau temui dengan mudah di mana saja.

Kamis, 07 April 2016

Ia yang Hadir Merayu Sukma (MINI-SHORT STORY)

0 komentar
“Tak ada cinta muncul mendadak,
karena dia anak kebudayaan, bukan batu dari langit.”

Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer
Bahkan apa yang kau katakan mengenai cinta pada pandangan pertama yang begitu palsu, basi dan mengada-ada, sebenarnya nyata. “Tidak, tidak ada yang seperti itu.” ucapmu sambil membuang muka. Hanya kau lah yang menutup diri dari rintik asmara yang jatuh menggerimis pada permukaan hati yang selalu kau selimuti dengan tameng baja. Memproteksi diri agar cinta yang kau bilang lemah, tidak hadir tiba-tiba dan mengacaukan segalanya.

Rabu, 06 April 2016

Sepasang Kaki yang (Tak Ingin) Selalu Terkatup

5 komentar


Aku ingin tidur dengan banyak laki-laki.

Sepotong tubuh ranum milik Sessyl terbolak-balik di atas ranjang, berguling-gulingan dengan gusar. Kelopak yang dihiasi bulu mata seperti ekor merak tak jua memejam. Sesekali, sebilah tangannya menyeka bulir-bulir air yang mengucur deras di dahi. Baling-baling kipas angin yang terus berputar seolah tak bisa menghapus titik-titik keringat yang terus berjatuhan. Usai menyeka, tangannya dirapatkan kembali untuk mendekap guling kesayangannya. Mencari sedikit kenyamanan dari sebuah bantal, guling dan kasur kapuk bermodel lama. Menghempaskan beratnya kepala (dan isinya) pada lembut dakron-dakron yang menggeliat di dalamnya.

Jumat, 01 April 2016

Jejak dalam Malam (CERPEN)

0 komentar
Gelap.
            Rem yang diinjak dengan telapak kaki kanan menghentikan gerak motor seketika. Rembulan masih menyenandungkan sinarnya yang merambat pada bilah-bilah batang bambu. Berbaur dengan cahaya lampu neon yang dikerubungi ribuan laron dibawah bangunan kayu. Sayup-sayup, bau mesin yang terpanggang menguar bersamaan dengan rasa mencekam yang seketika menghantui ulu hatiku. 
            Nyatakah ini? Rasa takut yang berpendar pada bulu halus tanganku?
 

Goresan Pena Nena Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template