Tampilkan postingan dengan label Kritik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kritik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Desember 2016

Boycott, Hatred and Propaganda

0 komentar
Alright everyone. I’m gonna tell you something you’d probably don’t know about me. It first happens when I was in junior high school. When I was 13 or 14 years old until first year of college, I am a part of ‘boycott-Jewish product’ society. I stopped consuming anything from ‘Jewish’ corporation, for example: McDonald, KFC, even Unilever products, and turned into another product that ‘safe’ from ‘Jewish’. Is it strange, doesn’t it? You may had a question: from WHERE I got this idea in my mind?
            Well. I remember I’ve been read a book about boycott Jewish corporations and their products. I bought this book from bookstore in Jalan Semarang. It described that if we buy their products, we are ACTIVELY participated for war in middle east country. Their profit will used for support war, for support Israel, for killing our ‘brother’ in Palestine. I also read a plenty of article in websites that supported this issue. Time passed by, I start to accepeted this, and trying to avoid ‘Jewish’ products. My idealism shocked my friends in junior high school, when we got a gathering in Ramadhan, in KFC Delta Plaza, I remember that I didn’t buy anything from KFC. Not because I didn’t have money, but for my own idealism not to buy Jewish products. Beside that, I got my own food from home or from supermarket, like snacks or something. So, yes, I’m saved from starvation when I gathered with my friends (LOL).
            I once remember about giving comment in Facebook, about my thoughts not to buy ‘Jewish’ products. Surprisingly, A LOT of people support me to do so. I had thousands likes and hundreds of comments, mostly support my ‘bravery’ to avoid ‘Jewish’ product. But, time flies, and now I don’t even understand my own thought in that time. Like, seriously, IT WAS ME?

Rabu, 25 Mei 2016

Peyempuan : Ketika Perempuan Kian Memarjinalkan Dirinya Sendiri

0 komentar
Judul buku: Peyempuan
Nama pengarang: @peyemp
Tahun terbit: 2013
Penerbit: TransMedia Pustaka
Jumlah halaman: 202 halaman

“Banyak rahasia di dalam diri seorang perempuan yang tidak diketahui oleh laki-laki. Kami memilih untuk menyimpannya rapat-rapat.” ~ adalah dua kalimat utama yang dituliskan pada halaman sampul buku ini. Dengan segera, saya dapat meramal bagaimana keseluruhan buku ini akan dituliskan, bahkan sebelum saya sempat membuka lembar pertamanya. 
      Dan benar saja. Buku ini tidak menawarkan semangat empowering yang akhir-akhir ini kian digalakkan oleh aktivis feminisme di negeri ini, namun sebaliknya, @peyemp, pengarang buku ini justru menempatkan posisi perempuan menjadi semakin inferior di dalam lingkungan patriarkis masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak? Tulisan, cuitan di Twitter, contoh-contoh kasus hingga jokes yang dilontarkan pun semakin memberi tekanan bahwa perempuan adalah makhluk yang tak berdaya dan lemah. Mau bukti?

Selasa, 17 November 2015

Arti Sampah Bagi Masyarakat Indonesia

0 komentar
Betapa tidak tahannya aku harus melihat pemandangan yang sama setiap hari. Melangkah keluar rumah, ada bungkus snack berserakan. Berkendara di jalan, ada plastik bertebaran di aspal. Menunggu lampu merah, ada orang yang dengan ‘asyik’ nya membuang apapun dari jendela mobilnya, lalu bergegas tancap gas begitu saja, tanpa merasa bersalah. Lewat pasar atau warung pinggir sungai, eh penjualnya buang sampahnya begitu saja dan membuat sungai terlihat menjijikkan. Lagi nongkrong bareng temen, eh buang puntung rokok dimana-mana. Lagi nyantai di taman, eh ada keluarga yang piknik dan sisa makanan dibiarkan tergeletak sembarangan. Gila. Semua dilakukan dalam satu fase, hop! Lempar dan buang begitu saja dan selesai lah persoalan mereka. Yang penting, sampah itu sudah tidak berada di tangan mereka lagi. Masalah yang ditimbulkan nanti bukan urusan mereka.


Sungai di Tanah Merah, Surabaya
            Aku pernah mendengar quote dari seorang tokoh terkenal (yang lagi-lagi, ku lupa namanya). Ia pernah berkata bahwa jika kau ingin melihat mentalitas masyarakat suatu negeri, lihatlah dari cara mereka memperlakukan sampah. Bisa dilihat dengan nyata, orang kita (Indonesia) kebanyakan sangat tidak bertanggung jawab soal sampah. Aku menemukan pola atas problem sosial yang sudah mengakar ini.

Minggu, 20 September 2015

Woman Position and Role in Indonesia : Why Culture Teach Woman to be Submissive?

2 komentar
I bet you ever heard people saying this : “Woman should waiting for a man, don’t chase them”. I think it’s a culture. As an Indonesian, it’s stated as an informal rules. Woman should wait. Woman should never say all of her feelings to a man. Nice woman is those who calm, obedient or submissive. If somebody break rules, she would be judge by others. People would say her as a lame, slut, crazy or somekind like that. Then, mostly man would stay away from her. The question is...why woman?

Selasa, 26 Maret 2013

Band : Sebuah Kerjasama Tim, Bukan Proyek Individual yang Ambisius

0 komentar

                                                      Oleh : Nena Zakiah

Tahun ini merupakan tahun dimana aku merasakan kemajuan pesat dalam karir bermusikku. Ya, tepat pada tanggal 5 Maret 2013, aku resmi memiliki band bersama teman sekelasku. Burn Out, itulah nama yang diusung untuk band kami.
Tentu saja, siapa yang tak senang apabila bagian dari impiannya terwujud. Rasa semangat tersebut meluap-luap dan kami pun optimis, meski sempat ‘cemburu’ dengan band tetangga yang personilnya seabrek. Rasa itu kami tepis jauh-jauh dan percaya pada kemampuan kami masing-masing.
 

Goresan Pena Nena Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template