Jumat, 06 April 2018

Untuk Kau, Sajakku

Jari-jariku kembali men-swipe layar untuk melakukan hal yang sama, tak kurang dari 30 detik setelahnya. Me-refresh halaman, demi melihat perubahan yang kunantikan. Tapi, lagi-lagi hasilnya serupa.

Ah, sudahlah.

Kulempar ponselku ke permukaan kasur. Melupakan sejenak apa yang baru saja terjadi. Kuganti arah mata ke langit-langit kamar. Lelah pandang akibat paparan sinar terus-menerus dari layar gawai membuat penglihatanku semakin kabur dari waktu ke waktu.

Aku menanti hadirmu, pemilik wajah teduh, bisikku dalam diam.

Walau kehadiran itu hanya sekedar notifikasi, aku pun sudah teramat senang. Kendati aku tak mengerti apa yang berpendar di pikirannya kala aku mengunggah sesuatu di kanal sosial media milikku. Apa yang terbersit di pikirnya, tak bisa dengan mudah ditebak. Apalagi jika hanya dari asumsi.

Betapa pasif interaksi yang terjadi diantara kami. Sebenarnya, aku tak ragu jika harus memulai usaha lebih dahulu. Tetapi, kutelan kembali kata-kata yang kususun ketika jemariku menyentuh chatroom. Batal.

Dan itu tidak hanya sekali terjadi.

Begitu banyak perhitungan, yang bahkan lebih rumit dari rumus matematika. Jika 56 dikali 72 hasilnya akan paten 4.032, jawaban atas rencana obrolanku denganmu akan jauh lebih tak terduga. Tidak ada yang bisa menebak bagaimana hasil akhirnya.

Rumit? Biarlah.

Hingga detik ini, aku belum menyusun strategi apa-apa, bahkan untuk sekedar menyapa.

Memilih bungkam, kelopak mataku menutup. Namun, otakku menolak terpejam. Bayanganmu kembali berseliweran di benakku. Dan tak sedikitpun ku tahu bagaimana cara membuatmu jadi milikku.

---

Mimpiku tentangmu seolah nyata.

Di tidurku, alam bawah sadarku leluasa berinteraksi denganmu. Ketiadaan jarak membuat kita berbincang lepas, tak seperti di dunia nyata. Kita bahkan tertawa berdua, saling menggoda. Disana, ada kedekatan yang tak pernah tercipta di realita. Bahkan pernah sekali, aku mencecap aroma tubuhmu dalam sebuah rengkuhan. Indah sekali.

Aku rela menukar apapun di hidupku yang kumiliki saat ini, demi bisa dekat denganmu, sungguh. Aku tidak main-main. Sementara, bermimpi memilikimu adalah hal terbodoh diantara yang terbodoh, termustahil diantara kejadian-kejadian paling tak masuk akal di muka bumi ini. Apakah mungkin?

Seringkali mimpi terlampau indah, sehingga aku merutuki diri jika pagi memaksaku berpisah denganmu. Dunia nyata kerap tak ramah memperlakukan angan-anganku tentangmu.

"Kau bilang perbedaan ini
bagaikan jurang pemisah.
Maka biarkan aku menyebrang
dan coba berjuang..."

Fiersa Besari

Jarak yang terentang adalah kepastian. Bentangan perbedaan yang membuat kita berdua enggan melangkahkan kaki dari titik dimana kita berdiri. Mungkin, stigma yang membuatmu takut bergerak dan rasa segan atas penolakan yang membuatku tak mampu lakukan hal yang sama. Kita terlalu berbeda sehingga menyulitkan untuk saling menyapa.

Seorang teman pernah berujar, "Perbedaan diantara kalian masih bisa ditoleransi. Bukan perbedaan agama kan? Masih ada kemungkinan," ujarnya, menyemangati kisahku.

"Iya, tapi probabilitasnya terlalu kecil," jawabku, menakar-nakar dalam pikiran.

Aku, yang biasanya selalu memiliki rencana, kini dihadapkan dengan jalan buntu. Clueless. Tanpa blueprint di tanganku, without any plan, aku hanya bisa terpekur di depan tembok yang menghalangi jalan kita. Berharap, tembok itu akan runtuh sendiri, suatu ketika. Dan aku bisa bersua denganmu lebih leluasa.

Semoga.

---

"Dear kamu, bolehkah aku merindu?"

Adalah sebuah introduksi yang sangat buruk. Terlalu terang-terangan. Kuhapus lagi kata-kata yang tersusun sehingga chatroom-ku kembali kosong.

"Hai, kamu. Aku hanya mau bilang kalau aku jatuh hati kepadamu. Tanpa syarat. Tidak apa-apa jika kau tak membalasnya. Aku sudah cukup senang bila kau telah mengetahuinya karena itu membuatku lega."

Ide kedua justru terdengar lebih buruk. Apa yang ia pikirkan jika tiba-tiba aku mengiriminya pesan seperti itu? Terkejut pasti. Dan bisa saja aku tak lagi memiliki kesempatan untuk berbicara dengannya lagi. Tidak lagi memiliki akses untuk menjangkaunya secara virtual.

Rumit. Terlalu banyak pertimbangan.

Aku menghela napas, membisikkan kata-kata dalam diam. Menghaturkan doa pada heningnya malam.

We are just stranger who meet at the same place, same time. And we still do. If I saw a falling star, I have only one wish. To make us closer ever than before. It's been two months and I'm still into you.

I don't have any interest to another male out there. It's like my feeling was only stuck at you. It's strange, doesn't it? 

But, despite any differences between us, I always believe, we meet for a reason. We are not only two people who randomly meet in that place. We are not just two stranger who know each other existence in social media. It's a fate, not a coincidence. Time passed by, and I believe someday it will changed to be better for us.

Untuk kau, sajakku. Puisi di malam-malam tanpa lelapku.

Kau mungkin tak tahu. Atau tahu, tetapi tak mau peduli. Tetapi kau harus mengerti. Aku tak pernah lelah berusaha membuatnya menjadi nyata.

Surabaya, 6 April 2018, 05:32 WIB.

0 komentar:

Posting Komentar

Think twice before you start typing! ;)

 

Goresan Pena Nena Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template