Senin, 30 April 2018

(Tidak) Sedang Baik-baik Saja

Saat aku menulis ini, perasaan tengah berkecamuk di dadaku. Gelisah, khawatir dan bingung menjadi satu. Bergumpal menjadi rasa yang menyesakkan jiwa. Tidak. Ini bukan tentang aku. Sudah cukup kalian mendengar celotehku yang terkadang penuh ego.
Aku berbicara mengenai seorang teman. Ia sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja dan kami berdua mengetahui hal itu.
Aku tidak ingat kapan, tetapi ia tiba-tiba memilihku menjadi seorang yang ia percaya untuk mencurahkan kisah pribadinya. Kami bahkan tidak pernah dekat sebelumnya. Sekedar mengenal, tidak pernah benar-benar menyelam untuk mengetahui hidup masing-masing.
What have I done to deserve this? Terkadang aku bertanya, apakah aku cukup pantas untuk dipercaya.

Hingga waktu itu datang.
Sejenak setelah bertukar kisah lewat perantara teknologi, we meet in real life. Kafe itu menjadi saksi betapa menyesakkannya hidup yang ia alami. Dan aku, di hadapannya, mendengarkan segala keluh kesahnya. I just let him talked and dominated the whole conversation, if only it's could make him feel better. Pertemuan pertama berakhir tentang betapa ia membenci suatu organisasi keagamaan dengan alasan-alasan personal yang telah dituturkan. Dan sedikit kisah mengenai seorang gadis yang ia sayangi, tetapi kini berbalik arah dan pergi.
Hari demi hari berlalu. Seems like things are getting worse.
Beberapa kali ia mengungah sesuatu yang gelap dan kelam. Such as depressing words, songs or video. He suffered and seriously need help. Dan sejak itu aku sadar, keadaan tidak sedang baik-baik saja. Aku tidak pernah segan menanyakan atau menawarkan bantuan, tapi hanya ada dua tipe respon: He denial and pretend everything is fine, atau ia mengabaikan pesan-pesanku. Aku tidak pernah sakit hati jika itu terjadi, aku benar-benar hanya ingin memastikan ia baik-baik saja. And how could I help if he abandoned my messages?
I never know mental illness could be a real thing, until I saw it by myself.
Jika sakit fisik dapat segera terdeteksi dan bisa ditangani dengan bantuan obat-obatan, maka mental illness was another one. You can't spot the symptoms in physical, because the problems is inside their head. Dan berbeda dengan sakit fisik, kau tidak pernah bisa memprediksi kapan itu berakhir. Kau tidak pernah tahu kapan itu akan menyerang. Bisa jadi saat kau tengah berada di keramaian atau saat kau tengah sendirian. Rasa depresi itu bisa muncul sewaktu-waktu tanpa pernah kau duga.
And you're the only one who can saved your own life.
Semua dukungan dari sekeliling pun tak akan berguna jika tak ada keinginan untuk berubah. So please, I'm here. You're not alone. Let's get through this together.
--
Pada tengah malam itu, di suatu sudut kota Surabaya yang gelap dan penuh nyamuk, ia kembali bercerita. Hingga pukul tiga pagi. Kali ini, kisah yang dituturkan jauh lebih gelap dan kelam. Aku tertegun mendengarnya berkata bahwa ia tak memiliki motivasi apapun lagi untuk hidup. Rumah pun tak lagi membuatnya betah. Ia ingin segera pergi, tetapi selalu dihalang-halangi.
Ia berkata, di tengah keramaian, pikiran buruk bisa sewaktu-waktu menguasainya.
Ia berkata, tidak lagi memedulikan kondisi kesehatannya.
Bahwa ia bisa tiba-tiba menangis, bahkan ketika bangun tidur atau tengah menyetir sekalipun.
Ia ingin melupakan semua dukanya, tetapi itu tidak mudah.
Tolong, jangan berkata begitu. Aku menangis dalam hati tiap kali kau mengucapkannya.
Aku sangat takut hal buruk terjadi kepadanya. Bukan lagi sebatas teman biasa jika kau dilibatkan dalam hal seperti ini, kan? Ada tanggung jawab yang sangat besar untuk ikut menjaganya jika aku telah dipercaya mendengar kisah tersebut.
Dan bagaimana jika aku gagal?
Aku akan menjadi orang yang pertama marah jika mengetahui aku gagal dalam menjaganya. Marah pada diriku sendiri atas kelengahanku. Marah pada keadaan mengapa hal-hal buruk terjadi di hidupnya dalam waktu yang bersamaan. Aku akan mengutuk diriku seumur hidup jika itu terjadi. Dan kini aku berusaha sekuat tenagaku untuk mencegahnya menjadi nyata.

Untuk lelaki yang empat bulan lebih muda dariku, please be strong. I always here whenever you need help. Anytime. I promise I'll never leave. Please know your self-worth. Tolong diingat bahwa kamu tidak sendirian. Seperti yang pernah kukatakan via DM Instagram, "Aku akan menemanimu hingga badai di kepalamu usai."
Dan ini tidak main-main. I really mean it.
Temanku yang lain menitipkan pesan untukmu, "You should know you loved by many. So please don't risk your life."

Surabaya, 30 April 2018, 23:39

0 komentar:

Posting Komentar

Think twice before you start typing! ;)

 

Goresan Pena Nena Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template