Rabu, 18 April 2018

Sayang, Ini Belum Berakhir

[00:46, GMT +7]
Malam-malam panjang kuhabiskan dengan rutinitas yang sama. Mendarat di profilmu, lalu memandanginya begitu lama. Berharap nyali, walau sekecil percikan api, timbul sesudahnya.

Aku selalu percaya, api kecil 'kan tumbuh menjadi kobaran yang besar dan menghangatkan sekelilingnya. Dan kini, aku bagaikan sang musafir lusuh, terjebak dalam goa karena hujan salju. Mati-matian kuberusaha memunculkan api dari dua ranting kayu yang saling bergesekan. Tanganku mulai lelah, tapi aku tetap berusaha. Pilihannya hanya dua, berjuang atau mati kedinginan.

Aku memilih terus berjuang.


Menatap fotomu. Kau sedemikian gembira hingga senyum lebar menghiasi wajah. Kau tak pernah sebahagia itu bila bersamaku, bisikku dalam hati. Lalu aku tersadar. Bukan aku penyebab ketidakbahagiaanmu, hanya saja kita tak pernah memiliki kesempatan bersama. Tak pernah mengizinkan satu sama lain keluar dari zona nyaman yang mendera.

Hingga kalender berganti, dan kita tetap pada posisi yang sama sejak pertama bersua. Kau dan aku, saling memandangi satu sama lain di titik yang berbeda. Saling menerka tanpa pernah berbicara. Jika boleh mengutip penggalan lagu Efek Rumah Kaca, "engkau dan aku, bumi dan langit..."

Kadang-kadang, jika lelap tak kunjung datang, aku merenung. Mengapa aku terjebak sedemikian dalam? Ini tidak seharusnya terjadi, aku tahu itu. Apa yang kurasakan hanya menambah rumit hidup kita berdua.

Lebih baik, kita tetap menjadi asing. Karena proses mengenal bisa timbulkan kekecewaan yang sangat dalam. Percayalah, aku telah mengalaminya, jauh lebih sering daripada kau.

Kita seharusnya sudah bahagia dengan hidup kita masing-masing. Tetapi, ada borgol yang terpasang di kedua kakiku hingga tak bisa membuatku bergerak. Melangkah seinchi pun tidak. Diam di tempat sembari perlahan menggurat luka.

Kau tahu tidak? Sejak pertama kita bertemu hingga beberapa bulan berlalu, aku masih sering memimpikanmu. Aneh sekali. Kata orang, mimpi adalah refleksi alam bawah sadar kita. Mimpi juga perwujudan angan yang tak pernah terealisasi di dunia nyata. Mimpi juga memantulkan rasa takut yang diam-diam tumbuh di sanubari kita.

Aku memimpikanmu, tertawa.

Aku memimpikanmu, merengkuh tubuhku.

Aku memimpikanmu, menyapa dan mengenaliku.

Dan seribu satu mimpi lainnya yang tak mungkin kuceritakan disini. Biarlah kupendam sendiri, biarlah menjadi misteri hingga waktu menjemputku kelak.

---

Berjam-jam lamanya, sang musafir lusuh itu tetap berusaha memunculkan percik api. Di luar sana, badai salju kian menggila. Dan apa yang ia miliki hanyalah selembar mantel tipis yang melekat di tubuh. Terlalu rapuh untuk melindungi dari dingin yang kian menyengat.

Percik api itu belum timbul jua.

Ingin rasanya ia menyerah dan membiarkan beku menggerogoti sumsum tulangnya. Biarkan aku mati, menjadi jasad tak bernama di dalam goa ini. Biar saja bila tak ada yang mengenangku atau tak ada yang menguburkan tengkorakku kelak.

Tapi, tidak.

Musafir itu dikenal sebagai orang yang sangat bebal. Keras kepala. Maka ia tetap berusaha menggesekkan kedua ranting kayu. Ia tahu ia tak ditakdirkan untuk mati secepat itu, maka ia terus menerus berjuang tanpa lelah. Ia ingin diberi kesempatan kedua oleh Tuhan, dan berjanji tak akan menyia-nyiakannya sama sekali.

Seperti seseorang yang mengalami mati suri dan melihat sepercik cahaya terang di ujung terowongan gelap, itulah kondisiku sekarang. Namun, terowongan itu begitu panjang, seolah tak pernah berakhir.

Tapi secercah cahaya membuat api dalam jiwanya berkobar. Sepanjang apapun itu, aku tahu aku akan sampai disana. Cepat atau lambat.

Sayang, ketahuilah ini belum berakhir. Ini justru merupakan awal dari perjalanan panjang yang mungkin akan kita tempuh bersama. Tunggulah. Aku akan sampai disana, secepat yang aku bisa.

Aku menyayangimu.

Surabaya, 18 April 2018, 01:21.

0 komentar:

Posting Komentar

Think twice before you start typing! ;)

 

Goresan Pena Nena Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template