Kamis, 29 Maret 2018

Lagu Favorit dan Kenangan Dibaliknya

No words can express how much I love music. Bahkan, ada masa-masa dalam hidupku dimana aku terjun langsung menjadi musisi. Oke, itu berlebihan. Tapi faktanya, aku memang sempat nge-band saat SMA dan awal kuliah, setelah itu stop sampai sekarang.
Musik bukan sekedar irama-irama indah yang mengalun di telinga. It's way more than it. Music calms me down, helps me from stressful situation. It's makes me stronger. Dan tentu, tiap musik yang kudengarkan punya kenangan tersendiri. Saat lagi senang, sedih, bahkan saat jatuh cinta. Well, ga usah banyak basa-basi kali ya? Berikut adalah lagu-lagu favoritku dan punya kenangan indah dibaliknya. Check it out!


1. Alesana - A Gilded Masquerade
Aku kenal Alesana sejak lama. Waktu itu kelas 2 SMA dan aku pertama denger lagu Alesana - To Be Scared by An Owl dari handphone temanku, sebut saja Randy. Entah kenapa dia bisa punya lagu post-hardcore ini di playlist-nya. Soalnya kupikir-pikir selera musik dia bukan yang garang kayak gini sih, hehe. Trus akhirnya aku minta deh via Bluetooth.

Anyway, A Gilded Masquerade punya kenangan khusus di hidupku. Aku pertama denger di bulan Maret 2017, saat awal-awal aku diterima jadi kru di Zetizen Jawa Pos. Memorable sekali. Aku selalu dengerin Alesana saat perjalanan pulang dari kerja, sekitar jam 23.00 malem. Dan kebetulan, bulan Maret tahun lalu hujan lagi deres-deresnya, hampir tiap malem hujan. Jadi, setiap penggalan liriknya muncul, "As the water dripped from the sky, I started to wonder. If I'm still alive, then we have to find the answer..." aku selalu memejamkan mata dan memandang ke langit gelap yang kala itu dipenuhi rintik-rintik hujan. Magis!

2. All Time Low - Missing You
Lagu perjalanan, adalah kata yang pantas disematkan untuk lagu satu ini. Aku mendengarkannya di akhir April 2017, saat dalam perjalanan ke Tulungagung dengan kereta api. Mood ceria dan fun langsung terbangun ketika mendengarkan ini, surely because the acoustic guitar dengan nada-nada major dan lirik yang building up.

Coba bayangkan kalian sedang duduk di kereta, sembari memandang jendela dan di luar ada pemandangan sawah, pepohonan, gunung dan langit biru, sembari mendengarkan lirik ini: "Hold on tight, this ride is a wild one. Make no mistake, the day will come when you can cover up what you've done..." Dijamin bikin mood kalian cerah seperti langit di luar sana!

Anyway, aku juga mendengarkan ini saat naik motor menuju pantai Gemah di Tulungagung, jalan-jalan ceritanya. Suasana terik semakin membakar semangat. Apalagi, ketika motor sedang ada di titik tertinggi jalan, lalu melihat pasir putih pantai dan laut biru di bawah sana. Speechless! Sangat cantik sekali.

3. All Time Low - Therapy & Remembering Sunday
Masih dalam edisi All Time Low, tapi beda occasion. It was kinda of galau song, apalagi in that moment I was in love with.... errr... seseorang, lol. Perkara dia siapa, I'm not gonna let you know, hehe.

"He's been running through my dreams, and he's drive me crazy, it seems..." begitu penggalan dari Remembering Sunday. Apalagi ketika part Juliet Simms masuk, wuih lagu jadi semakin bikin merinding! Her vocal yang stretchy dan serak-serak gitu seolah menggambarkan penderitaan akibat cinta. Sementara, di lagu Therapy sendiri, best part-nya ada di awal. Tone suara Alex Gaskarth match dengan tone suaraku, jadinya enak buat dinyanyikan sembari bergalau-galau ria, ahahah.

4. Sleeping with Sirens - Rogger Rabit

Yaampun lagu ini! Mengingatkanku dulu saat solo traveling alias mlaku-mlaku dhewe ke Kabupaten Ponorogo. Iya, kalian ga salah baca. Aku memang sempat solo traveling ke Ponorogo, Oktober 2016 silam. Berangkat subuh pake motor ke Terminal Bungurasih, trus naik bis Restu Panda, dengan harga tiket 25 ribu rupiah. Deg-degan sekaligus senang karena excited. It was my first time doing solo traveling. Aku masih ingat detailnya dengan sangat baik.

Sebenernya, ga cuma Rogger Rabit, sih. Karena sepanjang jalan, dari Surabaya ke Ponorogo lalu balik lagi ke Surabaya, aku dengerin belasan lagu Sleeping with Sirens. Mulai dari 'If You Can't Hang', 'If I'm James Dean, You're Audrey Hepburn', 'With Ears to See and Eyes to Hear', 'November' sampai 'Left Alone'. Banyak lah. Jadi semua itu ibarat serangkaian lagu yang mengingatkanku akan sebuah kenangan berpetualang sendirian ke kota orang, hehe.

Aku ingat betul duduk bersandar di kaca bis, melihat luar sembari mendengarkan Sleeping with Sirens. Dan aku juga masih ingat betapa sejuk dan sepoi-sepoinya Telaga Ngebel, danau di Ponorogo yang terletak di ketinggian, dimana kala itu cukup sepi pengunjung. Indah sekali. Jika aku memejamkan mata sembari mendengarkan Sleeping with Sirens, rasanya aku kembali ke masa-masa itu.

Jadi, siapa juga yang suka Kelin Quinn?

5. Tempting Paris - Polaroid in July
KKN BANGET! adalah deskripsi lagu ini. Gimana nggak? Saat KKN, bulan Juli sampai Agustus 2017, lagu-lagu Tempting Paris mewarnai hariku. FYI aja nih, Tempting Paris adalah side project dari vokalis Alesana, Shawn Milke, yang menyanyikan lagu bareng adiknya, Melissa Milke. Shawn nyanyi sambil main piano, beda ama di Alesana, dimana dia tampil gahar dengan gitar elektrik dan nada-nada post-hardcore. Mereka (Shawn dan Melissa) ini best sibling in the world versiku!

"Forget regret and move on. Nothing can hold you back. Please be strong and remember we are one." ucap Melissa dan Shawn, bernyanyi bersahut-sahutan. Lirik yang building up dan musik dengan nuansa jazzy-vintage ini selalu jadi favoritku.

Apalagi ketika masuk ke part di bawah ini, rasanya semakin magis. Aku biasa mendengarkannya menjelang tidur, sembari memejamkan mata, saat lampu kamar sudah dimatikan, malam menjadi hening dan teman-teman KKN-ku sudah terlelap di alam mimpi. Rasanya ketika aku mendengarkan ulang, aku serasa di kamar Nogosaren, Gading, Probolinggo, saat gelap, dan tidur di samping Ima. Ya Tuhan sungguh memorable sekali.

"You should know I would die for you. I'll never abandoned you. Knowing that you believed and let me live my dreams...

Tempting Paris, kalian juara di hatiku❤

6. Musikalisasi Puisi - Aku Ingin
Sebenarnya ini bukan lagu. Sesuai judulnya, ini adalah gubahan puisi Sapardi Djoko Damono, yang dibikin versi musik oleh seseorang di channel Youtube miliknya. Beberapa orang bilang, intro piano-nya mirip lagu Banda Neira - Sampai Jadi Debu. Kalian harus mendengarkan sendiri betapa merindingnya musikalisasi puisi satu ini. Apalagi sembari memikirkan orang yang kalian sayangi.

"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu..." dengan iringan piano, dinyanyikan oleh seorang laki-laki dengan vokal yang halus dan timbre yang bagus, bikin lagu ini bikin bulu kuduk berdiri. Kalo diresapi dalam-dalam bahkan bisa bikin nangis, lho.

Kalian bisa menemukan lagu ini di YouTube ya!

7. Hankestra - Hujan dan Kota
Sebenarnya, tak ada memori spesifik dengan lagu ini. Hanya saja, lagu ini benar-benar indah! Grup musik asal Malang ini bergerak di genre folk-pop, kadang dengan sentuhan blues yang lembut di dalamnya. Nilai plus yang jadi pembeda Hankestra dengan grup musik folk lainnya adalah tambahan instrumen biola. Asli, feel-nya makin dapet! Adiksi dari lagu Hujan dan Kota justru dicipta dengan iringan biolanya yang luar biasa menggetarkan hati!

Oh ya, jangan lupa dengarkan lagu Hankestra yang lain, yakni Selamat Tidur. Satu paket lengkap as your lullaby. Seperti ucapannya kepada media, Hankestra menjanjikan Ops. Bismika ini sebagai pengantar lelap bagi kalian semua. Tenang, lembut dan menghanyutkan.

8. Efek Rumah Kaca - Di Udara
Not as I expected, ternyata lagu-lagu Efek Rumah Kaca bisa sedemikian kuat maknanya. Lirik lagunya benar-benar kuat dan menggelorakan semangat hidup. Saat aku tengah menyanyikan lagu ini sambil menunggu lampu merah, Errica, yang dulu liputan bareng aku dan kini telah menjadi ex-crew Zetizen, tiba-tiba nyeletuk, "Mbak suka ERK juga kah?" tanyanya padaku. Aku pun terkejut saat tau Errica juga suka lagu-lagu indie. Sementara, di sampingku, Hilmi, fotografer yang kini juga telah jadi ex-crew Zetizen hanya mendengarkan. Padahal, aku jelas-jelas tau kalo selera musikku dan dirinya sama, suka band indie lokal, tapi dia ga ikut nimbrung dalam obrolan.

Sementara itu, lagu ERK lain, Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa, mengingatkanku saat karaoke di NAV Manyar bersama teman-teman dari Airlangga Photography Society (APS). Waktu itu setelah pergantian ketua umum, dari Rahma ke Maulana.

"Eh Nen, mau nyanyi lagu apa?" tanya Anisa Mumpuni padaku.

"Efek Rumah Kaca ada ta?" tanyaku, ga kepikiran lagu lain.

"Ada kok" jawabnya.

Dan kemudian, aku & Ronald nyanyi bareng ini, hahaha. "Wih Nena ternyata anak indie," celetuk Ronald dan Mas Adi ketika lagu ini muncul. Lah, baru tau mereka? Haha.

9. Batas Senja - Alenia
Lagu ini benar-benar mengingatkanku dengan momen mendaki gunung. Musiknya yang warm, liriknya yang menggambarkan perjuangan keras untuk menggapai sesuatu, serta vokalnya yang duet cowok-cewek, membuatku kepikiran, "Kayaknya asyik kalo di gunung nanti nyanyi lagu ini bareng Angga. Bikin vlog dengan menggunakan lagu ini sebagai backsound juga seru kayaknya," batinku.

"Untuk apa bercerita cerita yang sama? Dalam hidup butuh sesuatu yang baru. Untuk apa kau bermimpi bila tak kau raih? Bangunlah kau dan terus berlari!"

Aku, Angga dan Mas Yahya merencanakan untuk pergi ke Gunung Arjuno, bulan Maret ini. Sayangnya, ada perubahan rencana yang membuat agenda ini terpaksa di switch ke bulan Juli besok. Membayangkan lagu ini dinyanyikan di Puncak Ogal-Agil, 3.339 mdpl, rasanya akan sangat magis dan tak terlupakan!

10. Fourtwnty – Hitam Putih

"Belajar melepaskan dirinya.
Walau setengahku bersamanya...."

Tidak bisa tidak mendengarkan lagu ini tanpa galau. Yup, seperti kuceritakan di postingan sebelumnya, lagu ini mengingatkanku saat liputan basket bulan Februari 2018 lalu dan bertemu seorang laki-laki muda. Sebut saja Rakha. Kalian pasti sudah tau, apalagi aku beberapa kali update tentang doi di Instagram Story-ku.

Apa yang membuat dia spesial? Saat aku benar-benar jenuh, lelah dan muak liputan basket, ia hadir dan menghapuskan lukaku. Ia adalah alasanku untuk bersemangat datang ke arena, walau ga pernah sekalipun punya kesempatan buat ngobrol atau wawancara dirinya. Kha, if you read this, you should know that you're really special for me. I want to know more about you. Semoga semesta berkonspirasi untuk mempertemukan kita lagi suatu saat nanti.

11. Fajar Merah – Aku dan Kamu

"Dan kita berdua termangu, terperangkap rindu..."

Putra aktivis yang hilang di era Orde Baru ini sungguh luar biasa. Selain menciptakan musik-musik perlawanan dan penuh kritik tajam, ia juga bisa sangat magis menyanyikan lagu cinta. Sebenernya, suara Fajar Merah biasa aja sih, tapi entah mengapa ada sesuatu yang membuat suaranya hidup dan menjadi candu. Aku pernah mendengarkan lagu ini saat menanti lampu merah di Ahmad Yani, saat tengah hujan deras, tak terasa air mata telah menggenang di pelupuk mataku. What a beautiful song!

12. Fiersa Besari ft Tantri – Waktu yang Salah

"Beri kisah kita sedikit waktu.
Semesta mengirim dirimu untukmu.
Kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah..."

Aku belum lama mendeklarasikan diri jadi penggemar Fiersa Besari. He's such as a masterpiece di lagu-lagu galau! Coba jajal dengerin lagunya, 90% kalian bakal ngerasa menye-menye. Tiba-tiba otomatis inget kisah cinta kalian ama seseorang gitu, ehehehe. Ya.. Kecuali hati kalian terbuat dari batu, hihihi.

Lagu-lagu lainnya juga luar biasa. Seperti 'Hingga Napas Ini Habis' dengan petikan akustik gitarnya yang cocok untuk menemani tidur kalian. Ya, this song is kinda perfect lullaby for you. Dengarkan juga 'April' 'Melangkah Tanpamu' dan 'Kisah Semu'. You'll never regret! Trust me!

13. The Mentawais – Surfin' Java
Suka ini juga barusan sih. Gara-garanya, aku kebagian wawancara dengan personil The Mentawais, kebetulan dengan Umar Bawahab, gitaris The Mentawais. Sebelum itu, aku coba-coba dengerin lagunya dan cocok! Di intro, kita sudah disuguhi debur ombak yang tenang, lalu berturut-turut masuk iringan gitar yang fun, catchy dan bikin relaks. Jika kalian ga bisa liburan karena banyak tugas dan kerjaan, dengerin ini aja. Otomatis ngerasa lagi di pantai~

14. Seringai – Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan)
Aku punya playlist yang kusebut dengan 'lagu touring' alias lagu-lagu yang kuputar saat aku melakukan touring dengan motor ke kota lain. Nah, lagu-lagu disana genre-nya gahar, seperti post-hardcore, death metal, heavy metal dan semacamnya. Salah satu band dalam negeri yang terbaik adalah Seringai. FYI, aku pernah wawancara sama Arian, vokalis Seringai, tahun lalu. One of the best interview I've ever had.

Lagu ini pernah kuputar saat touring mengelilingi Probolinggo dengan sepeda motor milik Kemal, teman KKN-ku. Yang ikut touring rata-rata cowok dan aku sanggup ngikutin speed mereka yang rata-rata diatas 80km/jam. Sempat juga kuputar saat touring dari Surabaya ke Kota Batu, pulang pergi. Atau ke Pantai Teluk Asmoro, Desember 2017. Banyak momen-momen touring dimana aku nyetir sendiri dan bosan, lalu lagu Seringai ini bisa membangkitkan energiku. Langsung deh nyanyi sambil teriak sepanjang jalan, "Individu, individu merdeka!"

Dilihatin orang? Emang gue peduli? *kemudian ditampol online ama netijen*

15. Fall Out Boy – Sugar We're Going Down
Lompat jauh ya dari Seringai yang gahar, Fall Out Boy terasa seperti one of those mainstream American band. Ya, gimana ya? Karena lagu ini termasuk memorable, sih. Aku inget banget dulu aku sempat suka sama temen organisasiku. Entah kenapa di bayanganku, dia yang ngegantiin Patrick Stump, vokalis Fall Out Boy, nyanyiin lagu ini, dengan vokal yang powerful, tatapan mata tajam dan rambut acak-acakan. Padahal, ga pernah denger dia nyanyi sekalipun, wqwq.

"Drop a heart, break a name.
We're always sleeping in, sleeping for the wrong team..."

Coba interpretasikan sendiri artinya apa, hehe.

16. Fourtwnty – Fana Merah Jambu
Fourtwnty lagi, tapi dengan occasion yang berbeda. Jadi ceritanya, beberapa jam yang lalu aku abis liputan Fourtwnty. So lucky! Dan seperti biasa, lagu favoritku tetap 'Hitam Putih'. Namun, ada lagu lain yang nggak kalah memorable, yaitu Fana Merah Jambu. Lagu ini dinyanyikan terakhir saat Fourtwnty perform barusan.

Well, kalau ditarik mundur beberapa hari lalu, lagu ini kudengar saat aku sedang gym. Lagi workout di sepeda statis kala itu. Dan, tak kusangka ada pesan masuk dari orang yang sangat tak terduga. Pesan singkat yang membuatku senyum-senyum sendiri. Lagu 'Fana Merah Jambu' ini sedang diputar dan aku mendadak nyanyi sendiri sambil nari-nari, masih dalam kondisi workout di atas sepeda statis, haha. Perasaanku jadi enteng seperti kapas yang terbang ditiup angin sore~

"Berdansa, sore hariku. Sejiwa, alam dan duniamu. Melebur sifat kakuku..."

17. My Mother Is Hero – Confused
Masih inget jaman download lagu indie di Reverbnation? Nah, MMIH ini salah satunya download disana. Kenal sejak jaman SMA, sekitar tahun 2012. Dan kala itu, MMIH sangat tenar di Surabaya, sering diundang manggung dari pensi ke pensi sekolah. Tapi, lagu ini jadi memorable saat ada kegiatan mendaki ke Gunung Penanggungan, Desember 2015. Pernah bayangin naik gunung dalam kondisi hujan lebat, tapi harus tetep jalan? Medan ekstrim, licin dan horor membayangi langkah.

Lagu ini kugunakan sebagai soundtrack vlog-ku. Videonya bisa kalian tonton DISINI. Lagu ini sarat dengan suara serak vokalisnya, distorsi gitar yang tajam dan hentakan drum yang dinamis. Bikin semangat deh!

Segitu dulu aja sih. Nanti kalo ada tambahan, bakal aku update lagi. Thx for reading!

0 komentar:

Posting Komentar

Think twice before you start typing! ;)

 

Goresan Pena Nena Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template